Siswa SDN Rabok Bertahan di Bangunan Nyaris Roboh
- 22 Feb 2026 19:10 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Kondisi memprihatinkan masih membayangi dunia pendidikan di Kabupaten Manggarai. SDN Rabok yang terletak di Desa Loce, Kecamatan Reok Barat, hingga kini masih menggunakan bangunan darurat sebagai ruang belajar bagi para siswanya.
Bangunan tersebut terbuat dari pelupuh bambu, berlantai tanah, dan beratapkan seng seadanya. Atap yang sudah reyot kerap bocor saat hujan, sementara dinding menganga di sejumlah bagian sehingga angin dan terik matahari mudah masuk ke dalam ruang kelas.
Sebanyak 31 siswa tetap menjalani proses belajar-mengajar dalam kondisi serba terbatas itu. Meski jumlah siswa relatif sedikit, kondisi tersebut dinilai tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan hak mereka atas ruang belajar yang aman dan layak.
Kepala SDN Rabok, Xaverius Son, mengatakan bangunan darurat itu dibangun secara swadaya oleh orang tua siswa pada pertengahan 2023 karena keterbatasan ruang kelas.
“Di dalamnya pakai sekat,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Awalnya bangunan tersebut hanya dirancang untuk dua ruang kelas, namun kemudian disekat menjadi empat ruangan. Dua ruangan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, sementara dua lainnya difungsikan sebagai ruang guru dan ruang kepala sekolah.
Xaverius menjelaskan, sebelum bangunan darurat itu berdiri, kegiatan belajar mengajar bahkan terpaksa dilakukan di teras gedung lama karena tidak tersedia ruang kelas yang memadai.
Saat musim hujan, kondisi semakin sulit. Air hujan masuk melalui celah dinding dan atap yang bocor sehingga siswa harus dipindahkan sementara ke gedung permanen. Kegiatan belajar pun sering dihentikan hingga hujan reda.
Sekolah tersebut sebenarnya memiliki dua bangunan permanen. Satu gedung dibangun pada 2016 saat status sekolah beralih dari Tambahan Ruang Kelas (TRK), dan satu lagi dibangun pada 2024 melalui Dana Alokasi Umum (DAU). Namun dengan keterbatasan ruang, kebutuhan kelas tambahan dinilai masih mendesak.
Xaverius mengaku pihak sekolah rutin melaporkan kondisi sarana dan prasarana kepada dinas terkait setiap tahun, namun hingga kini belum ada realisasi pembangunan ruang kelas baru.
“Baru setiap tahun kami lapor sarpras, to. Kekurangannya. Tapi tidak ada realisasinya,” katanya.
Orang tua siswa juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah agar anak-anak mereka dapat belajar dalam ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak.
Kondisi SDN Rabok menjadi pengingat bahwa pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di wilayah terpencil, agar setiap anak memiliki kesempatan belajar dalam fasilitas yang memadai.