Jembatan Cipalebuh Garut Kini Selamatkan Siswa dari Arus Sungai
- 26 Jan 2026 08:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Garut - Jembatan Gantung Cipalebuh di Desa Mandala Kasih, Pameungpeuk, Garut, kini menyelamatkan anak-anak sekolah dari bahaya arus deras sungai. Sebelumnya, mereka harus menyeberangi Sungai Cipalebuh demi bisa sampai ke sekolah setiap hari.
Sebelum jembatan berdiri, sungai menjadi ancaman nyata bagi keselamatan anak-anak. Arus yang kerap berubah ganas memaksa mereka menunggu air surut atau menyeberang dalam kondisi berisiko.
Babinsa Desa Mandala Kasih, Serka Imat, mengatakan kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Anak-anak sekolah kerap berada dalam situasi berbahaya setiap kali hendak berangkat belajar.
“Kami agak miris waktu sebelum jembatan didirikan, anak-anak sekolah harus menyeberang. Di bawah ada aliran sungai Cikaso dan Cipalebuh lalu bermuara di Leuwi Niis, sehingga luapan air cukup besar,” kata Serka Imat saat ditemui BAKOM RI di jembatan gantung Cipalebuh, Pameungpeuk, Garut, Jumat 23 Januari 2026.
Baca Juga:
- Ketika Penarik Becak Listrik Sampaikan Doa untuk Presiden
Pertemuan dua sungai membuat debit air di kawasan tersebut sulit diprediksi. Saat hujan turun di wilayah hulu, arus sungai di Mandala Kasih bisa membesar secara tiba-tiba.
Pendangkalan sungai justru memperparah kondisi tersebut. Volume air terus meningkat tanpa ruang tampung yang memadai, sehingga ancaman banjir semakin besar.
Akibat kondisi itu, jembatan di lokasi tersebut berkali-kali rusak diterjang banjir. Kerusakan juga dipicu oleh kapasitas air yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Kapasitas air dan keadaan sungai yang sekarang sudah mulai mendangkal, sedangkan kapasitas air selalu bertambah. Itu yang menyebabkan kerusakan jembatan di masa yang sudah-sudah,” ujar Serka Imat.
Jembatan gantung yang berdiri saat ini menjadi pembangunan keempat di lokasi tersebut. Jembatan ini menghubungkan Kampung Punaga Jolok RW 09 dan Kampung Baru RW 08 dengan panjang 80 meter dan lebar 1,20 meter.
Pembangunan jembatan melibatkan TNI, relawan, dan warga dari dua kampung. Proses pengerjaan dilakukan dengan memperhitungkan risiko banjir, korosi udara pantai, serta kegagalan material pada jembatan sebelumnya.

Babinsa Desa Mandala Kasih, Garut, Serka Imat saat ditemui BAKOM RI di atas Jembatan Cipalebuh, Garut, Jumat, 23 Januari 2026 (Foto: dokumentasi/BAKOM RI)
Bagi Serka Imat, pembangunan jembatan ini bukan sekadar tugas kedinasan. Ia menyebut proses tersebut sebagai wujud tanggung jawab terhadap keselamatan warga desa binaannya.
“Saya sebagai pembina Desa Mandala Kasih selalu berkoordinasi dengan pihak desa, terutama dengan Kepala Desa dan Muspika di Kecamatan Pameungpeuk. Alhamdulillah setiap yang kami rencanakan atau kami usulkan bisa terealisasi sehingga kami sangat merasa bangga,” ucapnya.
Ia mengatakan kebanggaan itu lahir dari kebahagiaan masyarakat yang kini bisa beraktivitas dengan aman. Keselamatan anak-anak sekolah menjadi prioritas utama dari pembangunan jembatan tersebut.
“Bangga sekali karena hasil jerih payah dan juga tenaga yang kami keluarkan bisa terobati. Terutama dengan adanya kebahagiaan yang diterima oleh warga masyarakat khususnya Desa Mandala Kasih, umumnya Kecamatan Pameungpeuk,” ujar Serka Imat.
Kini, anak-anak dapat melangkah ke sekolah tanpa mempertaruhkan nyawa. Jembatan Gantung Cipalebuh menjadi simbol perlindungan, keselamatan, dan harapan baru bagi warga Desa Mandala Kasih.