Mengenang Al Attas dan Rihlah Ilmiah UIN Bukittinggi

  • 10 Mar 2026 23:27 WIB
  •  Bukittinggi

Dr. Irwandi Nashir

Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

RRI.CO.IDBukittinggi - ,Dunia intelektual Islam hari ini kehilangan salah seorang mujahid intelektual terbaiknya. Wafatnya Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas (SMNA) pada 8 Maret 2026 bukan sekadar berita duka yang mengisi kolom obituari media massa.

Kepergian sosok ini adalah penanda purnanya sebuah era di mana ilmu pengetahuan diletakkan dengan takzim di atas singgasana martabat dan adab.

Al-Attas bukan hanya seorang pemikir; ia adalah sang "arsitek peradaban" yang menghabiskan sisa usianya untuk melawan arus mekanisasi pendidikan melalui institusi legendaris yang ia rupa dengan penuh cinta: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

Bagi mereka yang pernah menjejakkan kaki di kompleks ISTAC yang bertahta di Bukit Tunku, Kuala Lumpur, institusi ini bukanlah sekadar kampus pascasarjana. Ia adalah manifestasi fisik dari pemikiran Al-Attas tentang keagungan Islam.

Dengan gaya arsitektur yang memadukan keanggunan Andalusia dan kewibawaan Utsmaniyyah, ISTAC dibangun sebagai "buku teks yang hidup" (living textbook).

Setiap sudutnya—mulai dari tiang-tiang marmer yang tegak membisu, pemilihan jenis kayu pada rak perpustakaan, hingga desain dewan kuliah yang memungkinkan suara terdengar jernih tanpa pengeras suara—mencerminkan ketelitian seorang jenius yang percaya bahwa keindahan visual adalah pintu masuk yang suci menuju kebenaran intelektual.

Namun, di balik kemegahan fisiknya, ISTAC menyimpan sebuah "tragedi intelektual" yang sering disebut oleh para muridnya sebagai penguburan hidup-hidup sebuah visi besar. Pada masa keemasannya di era 90-an, ISTAC adalah pusat gravitasi bagi sarjana Barat dan Timur.

Al-Attas diberikan mandat penuh untuk membangun sebuah institusi mandiri yang tidak terikat oleh belenggu birokrasi kaku.

Di sini, ilmu tidak diukur dengan angka-angka Indikator Kinerja Utama (KPI) atau sekadar tumpukan jam kredit. Ilmu diukur melalui kualitas karakter, penguasaan bahasa sumber—baik Arab, Yunani, maupun Latin—serta hubungan spiritual yang erat antara guru dan murid (master-disciple).

Tragedi itu memuncak pada tahun 2002, ketika pisau kebijakan pemerintah melucuti otonomi ISTAC dan menyerapnya ke dalam struktur birokrasi universitas arus utama. Bagi Al-Attas, ini adalah lonceng kematian bagi visi "Insan Kamil" yang ia perjuangkan. Ilmu pengetahuan yang semula dianggap sebagai "ruh" berubah menjadi sekadar komoditas pasar.

Sang profesor, yang membina setiap inci institusi itu dengan keringat dan gagasannya, akhirnya terasing dari ciptaannya sendiri.

Rihlah Akademik Delegasi UIN Bukittinggi

Kepergiannya baru-baru ini seolah menjadi penutup dari bab panjang perjuangan seorang intelektual yang enggan tunduk pada pragmatisme zaman.

Dalam konteks inilah, ingatan kita ditarik kembali pada sebuah catatan peristiwa penting untuk program mobilitas akademik dosen dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi.

Pada Februari 2024, hanya dua tahun sebelum kepulangan sang profesor, Rektor UIN Bukittinggi kala itu Prof. Dr. Ridha Ahida mengutus delegasi dosen dan mahasiswa dari UIN Bukittinggi untuk melakukan sebuah "rihlah ilmiah" ke ISTAC.

Rombongan yang terdiri dari Prof. Dr. Silfia Hanani (sekarang Rektor UIN Bukittinggi), Prof. Dr. Iiz Izmuddin, Dr. Arman Husni, Dr. Saiful Amin, dan penulis sendiri (Dr.Irwandi Nashir), melintasi batas negara demi menjemput mutiara pemikiran.

Delegasi ini juga didampingi oleh Presiden Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia (PCMM) Dato' Ismail, dan juru bicara PCMM, Pak Sam Dimano.

Perjalanan dari kaki Gunung Marapi menuju Bukit Tunku ini kini terasa sebagai sebuah ziarah makna yang krusial, sebuah kontak langsung terakhir bagi dosen dan generasi muda Bukittinggi dengan sisa-sisa kejayaan visi Al-Attas.

Rihlah tersebut bukan sekadar kunjungan akademik. Bagi mahasiswa UIN Bukittinggi, menjejakkan kaki di ISTAC adalah upaya menyambung kembali "sanad" pemikiran. Bukittinggi, dengan latar belakang sejarah intelektualnya yang kuat melalui tokoh seperti Sjech Muhammad Djamil Djambek, memiliki frekuensi yang sama dengan apa yang diperjuangkan Al-Attas: yakni perlawanan terhadap kejumudan dan upaya melakukan sintesis yang cerdas antara tradisi dan modernitas.

Mahasiswa diajak melihat bahwa menjadi modern tidak berarti harus mencampakkan identitas, dan menjadi berilmu berarti harus menjadi beradab.

Saat menyusuri Perpustakaan SMNA yang menyimpan manuskrip-manuskrip nadir koleksi Al-Attas, para mahasiswa menyaksikan bagaimana ilmu dirawat dengan penuh cinta.

Mereka belajar bahwa di tangan Al-Attas, Islamisasi ilmu bukan sekadar label, melainkan sebuah dekolonisasi pikiran untuk membersihkan pengaruh-pengaruh sekuler yang merusak tatanan nilai.

Pengalaman berdiri di dewan kuliah yang sunyi namun berwibawa itu menanamkan kesadaran bahwa mereka sedang berada di benteng terakhir pertahanan intelektualisme Islam di Asia Tenggara.

Kini, sang pencerah telah tiada. Meskipun ISTAC saat ini mungkin hanya dipandang oleh masyarakat awam sebagai bangunan megah yang sunyi, bagi mereka yang pernah mencicipi "hidangan" pemikirannya, ISTAC tetaplah kiblat intelektual. Jejak langkah dosen dan mahasiswa UIN Bukittinggi pada Februari 2024 semoga menjadi bukti bahwa cahaya pemikiran Al-Attas telah berpindah tangan.

Esai ini adalah penghormatan kecil untuk seorang tokoh yang pergi dengan penuh martabat. Prof. Al-Attas mungkin telah meninggalkan kita secara jasmani, namun visi yang ia tanamkan di Bukit Tunku akan terus bergema dalam setiap diskusi di ruang-ruang kelas di Bukittinggi dan di seluruh dunia Islam.

Kita tidak hanya berduka atas kepergian seorang manusia, melainkan kita merayakan sebuah warisan pemikiran yang akan terus menantang kita untuk menjadi manusia yang beradab di tengah dunia yang kian kehilangan ruhnya.

Selamat jalan, Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Cahaya dari Bukit Tunku itu akan tetap menyala di hati para pencari kebenaran.()

Rekomendasi Berita