Pasca Konflik, Perebutan Wisatawan Indonesia Menguat Ditengah Geopolitik Global

  • 09 Mar 2026 15:59 WIB
  •  Bukittinggi

Dr. H. Febby Dt. Bangso, SST.Par., M.Par., QRGP, CFA

Alumni PPRA LXIII LEMHANAS RI

RRI.CO.ID,Jakarta - Perubahan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memengaruhi stabilitas politik internasional, tetapi juga berdampak langsung pada sektor ekonomi strategis, termasuk industri pariwisata dunia.

Konflik bersenjata di berbagai kawasan, terutama di Timur Tengah, telah mengubah pola mobilitas global, jalur penerbangan internasional, hingga perilaku wisatawan dunia. Dalam situasi ketidakpastian global, pariwisata tidak lagi sekadar industri rekreasi, tetapi berkembang menjadi arena persaingan ekonomi dan geopolitik antarnegara.

Sejumlah negara kini memanfaatkan sektor pariwisata sebagai instrumen diplomasi budaya, strategi ekonomi, hingga bentuk intelijen pasar untuk menarik devisa dari wisatawan internasional.

Di tengah dinamika tersebut, wisatawan Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling diperebutkan di kawasan Asia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa serta pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat, Indonesia menjadi salah satu pasar wisata outbound terbesar di Asia Tenggara.

Mobilitas wisata masyarakat Indonesia terus berkembang, baik untuk tujuan rekreasi, belanja, kesehatan, pendidikan, maupun wisata religi.

Besarnya potensi tersebut membuat berbagai negara berlomba menarik wisatawan Indonesia. Negara seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, India, Turki, hingga Uni Emirat Arab aktif membuka rute penerbangan langsung, memberikan kemudahan visa, serta melakukan promosi digital yang disesuaikan dengan preferensi wisatawan Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia telah menjadi sumber devisa yang sangat diperebutkan di kawasan Asia.

Dalam perspektif ekonomi global, persaingan ini bahkan dapat dilihat sebagai bentuk intelijen ekonomi. Melalui teknologi digital, big data, serta platform perjalanan global, berbagai negara mampu memetakan perilaku wisatawan Indonesia secara detail.

Mulai dari kota asal dengan mobilitas tertinggi, musim perjalanan paling ramai, pilihan destinasi favorit, hingga pola pengeluaran selama perjalanan dapat dianalisis untuk merancang strategi promosi yang lebih presisi.

Karena itu, tidak mengherankan jika berbagai destinasi di Asia kini menawarkan paket wisata yang sangat spesifik bagi wisatawan Indonesia, seperti wisata keluarga, wisata belanja, kuliner halal, hiburan tematik, hingga wisata religi.

Sementara itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga memberikan dampak besar terhadap industri pariwisata global. Ketegangan antara Iran dan Israel, misalnya, berpotensi memengaruhi stabilitas energi dunia.

Iran berada di kawasan strategis yang berdekatan dengan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur ini, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan ketidakstabilan pasar energi.

Dampak langsungnya dirasakan oleh industri penerbangan internasional. Ketika harga bahan bakar meningkat, maskapai penerbangan akan menyesuaikan tarif tiket serta frekuensi penerbangan, yang pada akhirnya memengaruhi mobilitas wisata global.

Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki dimensi ekonomi yang signifikan. Meningkatnya perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri berpotensi menyebabkan kebocoran devisa dalam jumlah besar.

Data menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri mendekati 9 juta perjalanan per tahun. Dengan rata-rata pengeluaran sekitar 1.000 hingga 1.200 dolar Amerika Serikat per perjalanan, potensi devisa yang keluar dari Indonesia diperkirakan mencapai 8 hingga 10 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp120 triliun hingga Rp160 triliun.

Angka ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia merupakan sumber devisa yang sangat besar bagi negara tujuan wisata.

Jika tidak diimbangi dengan strategi penguatan pariwisata nasional, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar wisata bagi negara lain, sementara nilai ekonomi dari mobilitas wisata tersebut dinikmati oleh negara tujuan.

Dalam konteks ini, kehadiran badan intelijen negara dinilai semakin penting. Persaingan pariwisata global tidak lagi sekadar promosi destinasi, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari persaingan ekonomi strategis.

Intelijen negara dapat berperan menganalisis dampak konflik global terhadap mobilitas wisata dunia, memantau strategi negara lain dalam menarik wisatawan Indonesia, serta mengidentifikasi peluang pasar wisata baru bagi Indonesia.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep ketahanan pariwisata yang menjadi fokus penelitian disertasi Febby Dt. Bangso tentang ketahanan pariwisata pada masa krisis di Provinsi Bali.

Kajian tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan pariwisata sangat dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi kebijakan pemerintah, kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta diversifikasi pasar wisata.

Pengalaman Bali menunjukkan bahwa destinasi wisata dapat bertahan menghadapi berbagai krisis global—mulai dari bencana alam, pandemi, hingga dinamika geopolitik—melalui strategi adaptasi yang tepat.

Karena itu, penguatan pariwisata domestik, diversifikasi pasar wisata mancanegara, pembangunan sistem tourism intelligence, serta keterlibatan lembaga intelijen dalam membaca dinamika global menjadi langkah strategis bagi Indonesia.

Di tengah persaingan geopolitik ekonomi yang semakin kompleks, pariwisata kini tidak lagi sekadar industri rekreasi. Ia telah berkembang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi strategis suatu negara.

Jika mampu membaca dinamika tersebut dengan tepat, Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar wisata regional, tetapi berpotensi berkembang sebagai kekuatan pariwisata dunia yang tangguh dan berkelanjutan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita