Ancaman Hormuz, Guncang Energi dan Pariwisata Indonesia
- 01 Mar 2026 19:22 WIB
- Bukittinggi
Oleh:
Dr. H. Febby Dt. Bangso, SST.Par., M.Par., QRGP, CFA
Alumni PPRA LXIII Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia
RRI.CO.ID, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan dentuman bom. Ia bisa berawal dari satu jalur laut sempit bernama Selat Hormuz, titik vital distribusi energi dunia. Ketika ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat, pasar global bersiap pada satu kemungkinan: terganggunya pasokan minyak mentah.

Bagi Indonesia, konflik itu mungkin terasa jauh secara geografis. Namun dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung, jarak tidak pernah berarti bebas dampak.
Ketika Harga Minyak Dunia Melonjak
Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak dunia berpotensi melonjak signifikan. Kenaikan ini bukan sekadar angka di layar perdagangan internasional, melainkan efek berantai yang merembes ke berbagai sektor domestik.
Dampaknya antara lain:
- Biaya avtur meningkat
- Harga logistik naik
- Tarif transportasi terdorong
- Harga pangan ikut terkerek
- Inflasi menguat
- Daya beli masyarakat melemah
Sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan pada impor energi, lonjakan harga minyak global akan memberi tekanan besar pada fiskal negara. Subsidi energi tertekan, ruang APBN menyempit, dan pemerintah berpotensi menggeser prioritas anggaran.
Dalam situasi seperti itu, kebijakan publik dapat berubah arah—bukan karena pilihan strategis jangka panjang, melainkan karena tekanan keadaan.
Pariwisata: Sektor Paling Cepat Terguncang
Salah satu sektor yang paling responsif terhadap guncangan global adalah pariwisata. Studi tentang ketahanan pariwisata di Bali menunjukkan bahwa industri ini sangat sensitif terhadap shock eksternal, baik terorisme, pandemi, maupun tekanan ekonomi global.
Jika harga minyak melonjak tajam:
- Tiket penerbangan internasional naik
- Wisatawan jarak jauh menahan perjalanan
- Pasar Eropa dan Amerika melemah
- Wisata domestik tertekan akibat inflasi
Dampaknya tidak hanya dirasakan hotel dan maskapai, tetapi juga merembet ke UMKM, pekerja informal, serta ekonomi daerah berbasis pariwisata.
Berbeda dengan krisis sebelumnya, krisis energi global memukul dari hulu ke hilir secara simultan—biaya produksi naik, konsumsi turun, dan devisa berisiko tertekan dalam waktu bersamaan.
Geotourism dalam Pusaran Geopolitik
Dalam konteks geopolitik global, geotourism tidak lagi sekadar wisata berbasis geologi atau geopark. Ia menjadi cara membaca posisi strategis Indonesia dalam peta dunia yang berubah cepat.
Indonesia berada di simpul Indo-Pasifik yang relatif stabil. Di tengah konflik global, stabilitas ini justru menjadi aset strategis. Ketika dunia mencari destinasi aman, Indonesia memiliki peluang menjadi jangkar stabilitas kawasan—dengan syarat mampu membaca risiko sejak dini.
Peran Strategis Intelijen dan Kebijakan Terpadu
Di sinilah urgensi peran Badan Intelijen Negara menjadi krusial. Ancaman dari lonjakan harga minyak bukan semata isu ekonomi, tetapi ancaman strategis non-tradisional yang dapat berdampak pada stabilitas nasional.
Skenario yang perlu dipetakan antara lain:
- Proyeksi harga minyak dan dampaknya terhadap avtur
- Risiko penurunan kunjungan wisatawan mancanegara
- Kerentanan pasar utama terhadap resesi global
- Strategi diversifikasi pasar sebelum terjadi kontraksi tajam
Koordinasi lintas kementerian—termasuk Kementerian Pariwisata dan Kementerian Keuangan—diperlukan untuk membangun arsitektur ketahanan nasional yang terintegrasi.
Satu Sistem Ketahanan Nasional
Kenaikan harga minyak memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi pangan. Harga pangan naik, daya beli turun. Ketika konsumsi domestik melemah, sektor wisata ikut terdampak. Devisa menurun, tekanan terhadap ekonomi nasional meningkat.
Rantai ini saling terhubung:
- Ketahanan energi menjaga stabilitas biaya
- Ketahanan pangan menjaga stabilitas sosial
- Ketahanan ekonomi menjaga ruang fiskal
- Ketahanan pariwisata menjaga devisa dan lapangan kerja
Jika satu rapuh, seluruh sistem ikut teruji.
Mengubah Arah Sebelum Dipaksa Berubah
Menghadapi potensi krisis energi global, Indonesia memiliki dua pilihan: menunggu hingga tekanan memaksa perubahan, atau membaca risiko sejak dini dan menyiapkan langkah adaptif.
Strategi yang dapat dipertimbangkan:
- Memperkuat pasar regional dan domestik
- Mengembangkan destinasi berbasis pangan dan rantai pasok lokal
- Mendorong efisiensi energi di sektor pariwisata
- Menyiapkan skenario fiskal adaptif
Ketahanan bukan retorika. Ia adalah kesiapan membaca dunia sebelum dunia mengguncang kita.
Selat Hormuz mungkin ribuan kilometer dari Jakarta. Namun harga minyak dunia dapat memengaruhi arah APBN, arah kebijakan, hingga masa depan pariwisata nasional.
Dalam dunia penuh ketidakpastian, yang menentukan masa depan bukan hanya sumber daya—tetapi kecerdasan membaca risiko sebelum risiko itu membaca kita