Prabowonomics dan Percepatan Swasembada Pangan Jadi Sorotan

  • 09 Feb 2025 00:02 WIB
  •  Bengkalis

KBRN, Banjarmasin: Seminar penutup rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2025 di Banjarmasin membahas konsep Ekonomi Pancasila Prabowonomics di Hotel Aria Barito, Sabtu (8/2/25). Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Hendry Ch Bangun, menegaskan meskipun bukan isu yang mudah viral, Prabowonomics tetap penting diberitakan karena menyangkut kesejahteraan masyarakat luas.

Seminar ini dibuka Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Kalimantan Selatan, Ahmad Bagiawan, dan hadir sebagai narasumber antara lain Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. Ahmad Yunani; Ketua Kadin Kalsel, Shinta Laksmi Dewi; serta Chief Economist Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo.

Hendry Ch Bangun menjelaskan ketahanan pangan merupakan salah satu fokus utama dalam konsep Prabowonomics. Ia menekankan bahwa ide kemandirian dan pembangunan swasembada pangan sangat penting bagi kedaulatan negara.

“Ini konsep Ekonomi Pancasila plus ide Presiden Prabowo. Kemandirian, berdikari, dan pembangunan swasembada pangan penting bagi kedaulatan bangsa serta kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Dandi Satria Iswara, Deputi Kemenko Pangan yang mewakili Menko Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan awalnya Presiden Prabowo menargetkan swasembada pangan pada 2029. Namun, dalam perkembangannya, target tersebut dipercepat menjadi 2028 dan kini kembali dipercepat menjadi 2027. “Sektor pertanian dan pangan menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Prabowo,” katanya.

Dalam diskusi, sejumlah tantangan teridentifikasi dalam upaya mencapai swasembada pangan, antara lain alih fungsi lahan, ketersediaan benih dan pupuk, sistem irigasi, serta penyerapan hasil produksi petani oleh Bulog. Banjaran Surya Indrastomo menambahkan bahwa pemerintah juga melibatkan berbagai elemen, termasuk TNI dan Polri, guna mendukung percepatan program ini. “Selain itu, penting bagi pemerintah untuk berkolaborasi dengan pers dalam mengedukasi masyarakat dan melakukan kontrol sosial agar program ini bisa sukses,” tambahnya.

Lebih lanjut Ketua Kadin Kalsel, Shinta Laksmi Dewi, menyoroti pentingnya mengubah pola pikir petani di Kalimantan Selatan. “Umumnya petani di Kalsel merasa cukup panen sekali dalam setahun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mindset ini perlu diubah jika ingin mewujudkan swasembada pangan,” tuturnya.

Rekomendasi Berita