Menghidupkan Kembali Waktu, Kisah Tukang Servis Jam di Pasar Baru
- 13 Mar 2026 10:52 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Di tengah hiruk pikuk aktivitas perdagangan di Pasar Baru Banjarmasin, seorang pria paruh baya tampak tekun memperbaiki jam tangan di sebuah los kecil berukuran sekitar 1,5 x 1 meter. Pada Jumat, 13 Maret 2026 Amang Ucu terlihat sibuk melayani pelanggan yang datang untuk memperbaiki jam mereka.
Los kios yang ditempatinya sangat sederhana. Tidak ada papan nama yang menandai tempat usahanya. Hanya sebuah meja kaca kecil yang menjadi tempat bekerja sekaligus tempat meletakkan jam-jam milik pelanggan yang sedang menunggu diperbaiki. Di balik meja kaca itulah Amang Ucu menjalani hari-harinya, ditemani berbagai peralatan kecil seperti obeng mini, penjepit, dan kaca pembesar.

Meski tempatnya sederhana, keahlian Amang Ucu tidak bisa dipandang sebelah mata. Keterampilan memperbaiki jam ia dapatkan dari sang kakek yang dulu memiliki kios servis jam di kawasan Pasar Lima Banjarmasin. Sejak kecil ia sudah terbiasa melihat sang kakek membongkar dan merakit mesin jam yang rusak.
“Dulu waktu kecil saya sering ikut kakek di kiosnya. Dari situ saya belajar sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa memperbaiki sendiri,” ujar Amang Ucu sambil telaten membongkar bagian dalam sebuah jam tangan.
Menurutnya, pekerjaan sebagai tukang servis jam membutuhkan ketelitian tinggi. Komponen di dalam jam sangat kecil sehingga harus ditangani dengan hati-hati. Kesabaran juga menjadi kunci agar setiap bagian dapat kembali terpasang dengan baik.
Dalam sehari, selalu ada saja pelanggan yang datang ke los kecilnya. Ada yang memperbaiki jam yang rusak, mengganti baterai, hingga memperbaiki tali jam yang putus.
“Alhamdulillah, hampir setiap hari ada saja yang datang. Kadang servis jam, kadang hanya ganti baterai,”katanya.
Salah satu pelanggan, Andin, mengaku sering datang ke tempat Amang Ucu ketika jam tangannya mengalami kerusakan kecil. Menurutnya, selain hasil pekerjaannya rapi, prosesnya juga cepat.
“Saya ke sini mau ganti tali jam yang rusak sekalian ganti baterai. Sudah beberapa kali ke sini, hasilnya bagus dan orangnya juga ramah,” ujarnya.
Bagi Amang Ucu, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan keterampilan dari keluarga. Meski hanya menempati los kecil tanpa papan nama di Pasar Baru Banjarmasin, ia tetap tekun menjalani profesinya.
Dari meja kaca kecil tempatnya bekerja, Amang Ucu terus menjaga detak waktu tetap berjalan. Jam-jam yang sempat berhenti kembali berdetak di tangannya, seakan menjadi simbol bahwa ketekunan dan kesabaran akan selalu menemukan jalannya.