Tradisi Babari dalam Masyarakat Banjar

  • 13 Mar 2026 08:50 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi babari dalam masyarakat Banjar dikenal sederhana, namun memiliki nilai sosial yang tinggi. Hal ini dibahas oleh Akademisi UIN Antasari, Prof. Dr. H. Akhmad Sagir, M.Ag., didampingi bersama mahasiswanya, Wulan Afriza, dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 13 Maret 2026.

H. Akhmad menjelaskan, melalui tradisi babari, warga dapat berbagi kue dan makanan kepada tetangga sekitar maupun untuk keperluan berbuka puasa di musala. Tradisi ini dinilai sangat positif karena membuat warga saling memberi makanan sehingga orang lain dapat menikmati makanan di rumahnya menjadi lebih beragam.

Namun, menurutnya, di kampung agak sulit mencari orang yang sanggup membukakan puasa untuk satu hari, karena kendala ekonomi. Sehingga, ini menciptakan inisiatif baru bagi para pemuda kampung untuk mengumpulkan kue secara kolektif dari warga.

"Pengalaman saya, saya pernah berinisiatif untuk mendapatkan kue-kue dari masyarakat dengan cara keliling ke kampung, untuk dibawa ke musala atau langgar untuk buka puasa anak-anak muda," kata H. Akhmad.

ditegaskanya bahwa tradisi babari ini saling memberi kepada orang lain, saling mengasihi dan saling menyayangi, sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Nilai utama dari tradisi ini terletak pada ketulusan berbagi, bukan dilihat dari besar kecilnya jumlah pemberian, tapi dari kerelaan memberikan apa pun yang ia mampu.

Meskipun berbuka puasa di kafe atau restoran saat ini sedang tren, janganlah melupakan tradisi asli daerah sendiri. Gaya hidup modern tersebut memang tidak dilarang, namun ia mengingatkan agar jangan sampai masyarakat menghilangkan kebiasaan babari yang sudah turun-temurun.

Rekomendasi Berita