Kunjungan Pembeli di Pasar Baru Bandung jelang Lebaran Tak Seramai Dulu
- 13 Mar 2026 14:10 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Aktivitas perdagangan menjelang Hari Raya Idulfitri di Pasar Baru Bandung tahun ini dinilai tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Meskipun terdapat sedikit peningkatan jumlah pembeli dibandingkan hari biasa, lonjakannya tidak signifikan seperti yang biasanya terjadi menjelang Lebaran.
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B) Bandung, Iwan Suhermawan mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya situasi ekonomi yang masih mengalami tekanan.
“Pertama, kondisi deflasi masih melanda Indonesia sehingga masyarakat kecil banyak yang tidak memegang uang. Kedua, ada perubahan perilaku masyarakat. Kalau dulu membeli baju khusus saat Lebaran, sekarang mereka membeli kapan saja, tidak menunggu momen Idulfitri,” ujar Iwan saat ditemui di Pasar Baru Bandung, Jumat 13 Maret 2026.
Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan ekonomi, terutama kebijakan fiskal yang dinilai perlu segera diintrospeksi.
“Ini menjadi warning keras bagi pemerintah pusat. Kebijakan fiskal perlu segera diintrospeksi. Kalau saat Lebaran saja ekonomi lesu, apalagi setelah Lebaran,” katanya.
Ia menjelaskan, peningkatan transaksi penjualan di Pasar Baru saat ini sangat minim. Bahkan sebagian pedagang mengaku belum mendapatkan penjualan sama sekali dalam beberapa hari terakhir.
“Hampir tidak ada peningkatan. Paling hanya sekitar 1 sampai 2 persen. Ramai hanya di Sabtu dan Minggu, itu pun tidak signifikan. Bahkan ada pedagang yang belum mendapat penjualan sama sekali,” ucapnya.
Tidak hanya perdagangan langsung di toko, kondisi serupa juga dirasakan pada penjualan secara daring. Banyak pedagang Pasar Baru yang memanfaatkan platform online untuk berjualan, namun tetap merasakan dampak melemahnya daya beli masyarakat.
“Online juga sedang rapuh. Banyak pedagang Pasar Baru yang juga berdagang online, tetapi tetap merasakan deflasi ekonomi dan turunnya daya beli,” katanya.
Selain itu, kebijakan terkait pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) juga dinilai berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi masyarakat menjelang Lebaran.
“Kalau kebijakan THR tersendat atau ditiadakan, tentu daya beli masyarakat akan semakin menurun,” tambahnya.
Iwan memperkirakan jumlah pengunjung Pasar Baru saat ini hanya sekitar 5.000 orang per hari. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 20 hingga 30 ribu pengunjung per minggu.
“Padahal ada sekitar 2.600 toko yang buka di Pasar Baru, sehingga perbedaannya sangat terasa,” ucapnya.
Dari sisi harga, sejumlah komoditas sandang memang mengalami kenaikan akibat meningkatnya harga bahan baku dan biaya produksi. Namun menurutnya, kenaikan harga tersebut tidak terlalu signifikan.
“Ada kenaikan karena bahan baku naik, sehingga biaya produksi juga naik. Tapi kenaikan harga tidak terlalu besar. Masalah utamanya tetap daya beli masyarakat yang menurun,” jelasnya.
Para pedagang sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat pembeli, termasuk memanfaatkan promosi melalui media sosial. Namun langkah tersebut dinilai belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.
Meski demikian, Iwan menilai kondisi Pasar Baru Bandung masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah pusat perdagangan lain di Kota Bandung.
“Masih. Tingkat okupasi pedagang di Pasar Baru sekitar 65 persen. Itu jauh lebih tinggi dibanding ITC atau Andir yang hanya sekitar 10 persen. Jadi Pasar Baru masih cukup baik, hanya saja perilaku masyarakat yang memang sudah berubah,” tandasnya.