Wamen Ekraf Radio Masih Relevan, Peran Ketahanan Bangsa

  • 08 Feb 2026 13:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, menegaskan bahwa radio hingga saat ini masih relevan dan memiliki peran strategis. Tidak hanya sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan bangsa.

Menurut Irene, anggapan bahwa radio sudah ditinggalkan masyarakat tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan data, masih terdapat sekitar 25 juta pendengar radio di Indonesia.

“Radio itu sering dianggap sudah tidak relevan, padahal faktanya masih ada sekitar 25 jutaan orang yang mendengarkan radio. Radio bukan hanya entertainment, tapi juga bagian dari ketahanan bangsa,” ujar Irene Umar usai menghadiri acara Kick Off Radio Ekraf Green di Green Park 2, Cihampelas Walk, Kota Bandung, Minggu 8 Februari 2026.

Ia mengingatkan kembali bahwa radio memiliki nilai historis yang sangat kuat bagi Indonesia. Proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, kata dia, disebarluaskan kepada masyarakat melalui radio.

“Indonesia merdeka itu lewat radio. Pengumuman-pengumuman penting waktu itu disampaikan melalui radio. Bahkan sampai hari ini, dalam kondisi darurat ketika listrik dan internet tidak ada, radio tetap bisa diandalkan. Karena itu radio masih sangat relevan,” katanya.

Irene juga menuturkan bahwa kegiatan roadshow Radio Ekraf telah dimulai sejak tahun lalu di Jakarta, tepatnya di sekitar kantor Kementerian Ekraf. Roadshow ini bertujuan untuk membuka kembali pemahaman publik, khususnya generasi muda, bahwa radio masih memiliki peran penting di tengah perkembangan teknologi digital.

“Ini bagian dari roadshow yang kami mulai tahun lalu, supaya teman-teman bisa melihat bahwa radio itu apa, dan bahwa radio itu masih relevan,” katanya. Lebih lanjut, Irene menyampaikan bahwa radio juga berfungsi sebagai launchpad atau landasan awal bagi lahirnya insan-insan kreatif di Indonesia.

“Radio ini bisa mengorbitkan insan kreatif. Banyak leader hari ini yang berangkat dari radio, salah satunya Kang Farhan yang memulai karier sebagai penyiar radio, dan sekarang menjadi pemimpin,” ungkapnya.


Baca juga:Wamendikdasmen Dorong Pengelolaan Food Waste MBG di Sekolah


Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa media radio merupakan bagian penting dari ekosistem industri kreatif di Kota Bandung.

“Media radio untuk dunia kreativitas Kota Bandung itu adalah salah satu ekosistem yang melahirkan banyak sekali talenta terbaik. Bukan hanya di bidang penyiaran, tapi juga manajemen, marketing, hingga berbagai bentuk ekspresi dan karya kreatif lainnya,” katanya.

Ia mengutarakan, sejak era 1970-an, komunitas-komunitas kreatif di Kota Bandung sudah banyak berafiliasi dengan berbagai media radio.

“Dari zaman tahun 70-an, komunitas di Kota Bandung itu tumbuh dan berafiliasi dengan banyak media radio. Dari sinilah lahir berbagai talenta dan gerakan kreatif,” ucapnya.

Menurut Farhan, radio ke depan perlu dikembalikan pada perannya sebagai ruang tumbuh kreativitas, dengan dua perhatian utama. Pertama, radio harus mampu berkonvergensi dengan platform digital. Kedua, radio harus mempertahankan karakteristiknya sebagai media yang memiliki daya tahan atau resilience tinggi.

“Radio harus bisa berkonvergensi dengan platform digital, itu nomor satu. Nomor dua, radio harus mengedepankan karakteristik ketahanan yang tinggi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan frekuensi radio sebagai bagian dari ketahanan nasional.

“Frekuensi radio harus tetap dipertahankan, karena itu bagian dari ketahanan nasional. Penyiar dan pengelola radio dituntut untuk terus kreatif mencari solusi bersama,” pungkasnya.

Ia menilai, kehadiran program Radio Ekraf menjadi bentuk nyata komitmen Kementerian Ekonomi Kreatif dalam memperkuat peran radio sebagai media strategis yang adaptif, kreatif, dan tetap relevan di era digital.

“Itu kira-kira pesan utama yang kami tangkap dari Kementerian Ekraf dengan hadirnya Radio Ekraf ini,” tandasnya.

Rekomendasi Berita