FTA Indonesia–EAEU Jembatan Emas Perdagangan Eurasia

  • 31 Des 2025 16:07 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) menjadi tonggak bersejarah yang menciptakan “jembatan emas” antara Indonesia dan kawasan Eurasia. Kesepakatan yang ditandatangani di St. Petersburg, Rusia, Minggu (21/12/2025), itu menargetkan nilai perdagangan Indonesia–Kazakhstan mencapai 1,5 hingga 2 miliar dolar AS dalam tiga sampai lima tahun ke depan.

“Implementasi FTA Indonesia–EAEU ini akan menggandakan perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU,” tegas Ketua Komisi Ekonomi Eurasia, Bakytzhan Sagintayev.

Penandatanganan tersebut berlangsung dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi EAEU di St. Petersburg pada 21–22 Desember 2025 dan dihadiri lengkap lima pemimpin negara anggota EAEU, yakni Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus, dan Kyrgyzstan, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Indonesia diwakili Menteri Perdagangan Budi Santoso, didampingi Duta Besar RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan Dr. M. Fadjroel Rachman serta Dubes Jose Tavares.

Perjanjian ditandatangani oleh para wakil perdana menteri negara anggota EAEU, antara lain Serik Zhumangarin dari Kazakhstan, Alexey Overchuk dari Rusia, Mher Grigoryan dari Armenia, Natalia Petkevich dari Belarus, dan Daniyar Armangeldiev dari Kyrgyzstan. Ketua Komisi Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev turut menegaskan bahwa FTA ini menjadi fondasi baru integrasi ekonomi kawasan dengan Indonesia.

Uni Ekonomi Eurasia merupakan blok ekonomi yang aktif sejak 2015 dengan pasar sekitar 180 juta penduduk dan produk domestik bruto (GDP) mencapai 2,56 triliun dolar AS. Sementara itu, Indonesia memiliki populasi sekitar 285 juta jiwa dengan GDP sekitar 1,4 triliun dolar AS. “Kazakhstan, dengan GDP per kapita sekitar 15 ribu dolar AS dan populasi 20 juta, menjadi penentu strategis keberhasilan FTA Indonesia–EAEU,” ujar Dubes Fadjroel.

Dubes Fadjroel menegaskan keterlibatannya sejak awal perundingan karena melihat arti strategis perjanjian tersebut.

“Ini adalah jembatan emas yang menghubungkan Indonesia dan Eurasia. Pembukaan pasar Eurasia sangat sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo dan arahan Menteri Luar Negeri Sugiono,” katanya.

Ia juga menekankan kolaborasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan Kemenko Perekonomian, dalam menuntaskan perjanjian tersebut.

FTA Indonesia–EAEU mencakup 15 bab, termasuk akses pasar, fasilitasi perdagangan, dan kerja sama ekonomi. Sebanyak 90,5 persen tarif preferensial diberikan untuk produk Indonesia yang mewakili 95,1 persen total impor EAEU dari Indonesia.

“Produk Indonesia akan memperoleh akses pasar yang lebih kompetitif dan luas,” kata Mendag Budi Santoso, seraya menyebut peluang besar bagi ekspor sawit, kakao, kopi, tekstil, alas kaki, produk perikanan, hingga elektronik.

Pemerintah Kazakhstan menyambut antusias perjanjian ini karena dinilai akan mendorong ekspor pertanian dan industri ke Indonesia. Nilai perdagangan Kazakhstan–Indonesia tercatat mencapai 691,3 juta dolar AS pada 2022.

“Kami yakin nilai perdagangan bisa digandakan menuju target 1,5 hingga 2 miliar dolar AS, didukung kemajuan logistik, penerbangan langsung, bebas visa, perlindungan investasi, serta kerja sama energi dan mineral,” papar Dubes Fadjroel.

KBRI Astana merekomendasikan penyusunan peta jalan strategis untuk menangkap peluang pasar tersebut melalui percepatan koordinasi logistik, harmonisasi bea masuk, dan efisiensi transportasi. “Kerja gotong royong dengan pendekatan pentaheliks akan memperdalam integrasi ekonomi dan meningkatkan perdagangan kedua negara,” ujar Dubes Fadjroel.


Rekomendasi Berita