Keterbatasan Fasilitas Ubah Metode Belajar Sekolah Pelosok
- 15 Feb 2026 21:50 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Keterbatasan fasilitas dasar seperti air dan listrik memaksa sekolah di wilayah pelosok mengubah metode pembelajaran setiap hari. Guru dan siswa harus beradaptasi agar proses belajar tetap berjalan meski sarana tidak selalu tersedia.
Keterbatasan air bersih paling terasa saat musim kemarau panjang melanda wilayah tersebut, termasuk di lingkungan sekolah. “Ketika musim panas persediaan air menurun sehingga penggunaan toilet dan kegiatan kebersihan harus benar-benar dihemat,” kata Maria Herlina Fahiberek, S.Pd., Gr., guru SMPN Satap Baunakan, pada Rabu, 11 Februari 2026.
Selain air, listrik yang tidak stabil juga berdampak langsung pada penggunaan perangkat belajar berbasis teknologi di kelas. Perangkat seperti proyektor dan alat elektronik tidak dapat digunakan ketika listrik tiba-tiba padam tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Kalau listrik padam kami kembali menggunakan papan tulis dan buku sebagai media utama pembelajaran di kelas,” ucapya. Ia menuturkan guru harus menyiapkan metode alternatif agar pembelajaran tetap berjalan efektif setiap hari.
Adaptasi metode pembelajaran menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalam kondisi keterbatasan sarana di sekolah. Guru dituntut kreatif agar siswa tetap memahami materi meski tidak didukung fasilitas teknologi yang memadai.
“Situasi ini membuat kami belajar untuk tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ujarnya. Ia menambahkan, pendekatan manual tetap efektif jika dilakukan dengan metode yang tepat.
Menurut Maria, perubahan metode belajar ini menjadi gambaran nyata bagaimana sekolah pelosok bertahan dengan segala keterbatasan yang ada. Kondisi tersebut masih membutuhkan perhatian berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil.