Amerika Serikat Incar Cadangan Minyak Iran

  • 04 Mar 2026 23:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pakar Ekonomi Politik Internasional UMY Profesor Faris Al-Fadhat melihat akses energi, menjadi penyebab konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran. Sebab, Iran memiliki cadangan minyak mentah cukup besar.

”Kita harus melihat dari sudut pandang lebih luas,” katanya, Rabu, 4 Maret 2026. ”Bahwa ada perebutan sumber-sumber ekonomi yang jauh lebih besar, daripada sekadar menyerang Iran karena dianggap sebagai ancaman politik bagi kepentingan AS.”

Sesuai data Organisasi Negara-Negara Eksportir Minyak (OPEC), Iran memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Jumlahnya mencapai 208,6 miliar barel, atau hampir 12 persen dari total cadangan minyak global.

Posisi Iran, berada di bawah Venezuela dan Arab Saudi dalam peringkat dunia. Data tersebut menunjukkan bahwa setiap gangguan terhadap produksi atau pemasokan minyak Iran, memiliki dampak signifikan pada pasar energi global.

”Terutama jika konflik meluas atau mengancam stabilitas jalur transit energi seperti Selat Hormuz,” ucapnya. ”Yakni jalur yang menjadi rute keluar utama bagi sekitar 20 persen minyak bumi, yang diangkut melalui jalur laut.”

Dampak konflik juga dirasakan negara lain, apalagi sebagian besar ekspor minyak Iran, selama ini menuju ke konsumen terbesarnya yaitu China. Gangguan suplai dapat memicu lonjakan harga minyak di pasar energi internasional.

Profesor Faris membandingkan motif strategis konflik ini, dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada masa sebelum Donald Trump menjadi presiden. Termasuk intervensi AS di negara-negara produsen minyak lain.

Ia menilai, perubahan rezim di negara kaya energi dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi AS. Karena memudahkan dominasi ekonomi di kawasan tersebut.

Rekomendasi Berita