BMKG Ingatkan Potensi Kemarau Lebih Kering di 2026, Waspada Mulai April

  • 10 Mar 2026 05:38 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, WAMENA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada tahun 2026. Hal ini menyusul berakhirnya fenomena La Niña yang selama ini membawa curah hujan tinggi, berganti dengan pola cuaca yang diprediksi akan jauh lebih kering.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa transisi cuaca ini akan mulai terasa secara signifikan pada bulan April mendatang.

Berbeda dengan tahun 2025 yang cenderung basah akibat pengaruh La Niña lemah, tahun 2026 diprediksi akan didominasi oleh kondisi Netral. Berdasarkan pantauan atmosfer, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) tidak akan berada pada fase ekstrem, namun justru hal inilah yang perlu diwaspadai.

"Kondisi netral tersebut mengindikasikan curah hujan yang cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan sedikit di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir," ujar Faisal dalam Apel Nasional Kesiapsiagaan Penanganan Karhutla di Lanud Roesmin Nurjadin, Kamis (5/3).

Selain fokus pada tahun ini, BMKG juga memberikan peringatan dini terkait potensi siklus El Niño empat tahunan yang diprediksi jatuh pada tahun 2027. Jika El Niño muncul bersamaan dengan penguatan Monsun Australia, angin yang membawa massa udara kering dari Benua Kanguru ke Indonesia berisiko menghadapi musim kemarau yang sangat panjang dan ekstrem.

Perubahan pola cuaca dari basah (La Niña) ke kering (Netral/El Niño) memiliki dampak sistemik pada beberapa sektor vital di Indonesia.

Faisal menekankan bahwa langkah-langkah mitigasi, mulai dari pembersihan sekat kanal hingga penyiapan personel satgas Karhutla, harus dipersiapkan sejak dini sebelum memasuki puncak musim kering.

Rekomendasi Berita