Anisa Handani Uno Harumkan Tolitoli di Malaysia Internasional
- 20 Feb 2026 12:20 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli - Langkahnya mantap saat berdiri di depan forum internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Di hadapannya, peserta dari berbagai negara menyimak presentasi tentang inovasi pertanian berkelanjutan. Tak banyak yang tahu, perempuan muda berusia 23 Tahun itu berasal dari Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Namanya, Anisa Handani Uno, mahasiswi S2 Fakultas Biologi dari Universitas Gadjah Mada.
Di ajang 2nd International Student Summit 2026 (ISS) 2026 yang digelar pada 14 hingga 15 Februari 2026. Anisa bersama timnya berhasil meraih Silver Medal (Juara 2) pada kategori Presentasi Poster sub-tema Agriculture dan penghargaan Favorite Poster sub-tema Agriculture. Sebuah pencapaian yang tak hanya membanggakan almamater, tetapi juga daerah asalnya.
Berangkat dengan Mimpi dan Keyakinan
ISS 2026 yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation ini mempertemukan mahasiswa dari enam negara: Malaysia, Indonesia, Kenya, Nigeria, Somalia, dan Irak. Mengusung tema “Building a Sustainable and Inclusive Future,” ajang ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menawarkan solusi atas berbagai persoalan global.
Bagi Anisa, perjalanan menuju Malaysia bukan sekadar mengikuti lomba. Ia harus melewati proses seleksi ketat, mulai dari pengumpulan karya, penilaian internasional, hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai finalis. Bersama dua rekannya, ia mempersiapkan presentasi dengan penuh dedikasi.
“Saya tidak hanya membawa nama tim atau kampus, tetapi juga membawa nama Indonesia dan Tolitoli,” ujarnya.
Lahir dari Keresahan, Tumbuh Jadi Inovasi
Inovasi yang mereka usung bertajuk KARSTIVA.ID – Smart Eco-Farming Innovation for Karst Soil Revitalization in Gunungkidul, Yogyakarta. Ide ini lahir dari keresahan terhadap kondisi lahan karst yang kurang subur dan tantangan yang dihadapi para petani.
KARSTIVA.ID dirancang sebagai platform digital berbasis smart eco-farming yang mengintegrasikan konsep regenerative agriculture, biochar–microbial synergy, serta teknologi IoT dan AI. Melalui sistem ini, petani dapat memantau kondisi tanah, meningkatkan kesuburan, serta mengambil keputusan berbasis data.
Bagi Anisa, inovasi ini bukan sekadar proyek kompetisi. “Kami ingin solusi ini benar-benar bisa diterapkan dan membantu petani,” katanya.
Momen yang Tak Terlupakan
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika namanya dan tim dipanggil sebagai peraih Silver Medal. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Rasa haru bercampur bangga menyelimuti dirinya.
“Bukan hanya soal juara, tetapi tentang proses, kerja sama tim, dan bagaimana kami membuktikan bahwa ide dari anak Indonesia bisa diapresiasi di tingkat internasional,” ungkapnya.
Pengalaman berdiskusi dengan peserta dari berbagai negara juga membuka wawasannya. Ia belajar menyampaikan gagasan dengan percaya diri dan menerima perspektif baru dari latar belakang budaya yang berbeda.
Pesan untuk Anak Daerah
Sebagai anak daerah, Anisa memahami betul rasa minder yang kadang menghantui generasi muda di pelosok Indonesia. Namun ia membuktikan bahwa asal-usul bukanlah batas.
“Jangan pernah merasa kecil karena berasal dari daerah. Kita punya kesempatan yang sama untuk bermimpi besar,” pesannya, khususnya bagi generasi muda Tolitoli.
Baginya, dunia terlalu luas untuk dijelajahi dengan rasa takut. Kunci utamanya adalah berani mencoba, terus belajar, dan keluar dari zona nyaman.
Ingin Kembali dan Memberi Dampak
Setelah menyelesaikan studi S2, Anisa berharap dapat berkontribusi nyata, terutama dalam pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis teknologi. Ia ingin ilmu dan pengalamannya tidak berhenti pada pencapaian pribadi.
“Keberhasilan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi bagaimana kita bisa kembali dan memberi manfaat bagi daerah kita,” tuturnya.
Dari Tolitoli menuju panggung internasional, kisah Anisa Handani Uno menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari mana saja. Dan ketika kesempatan datang, keberanian lah yang menentukan sejauh mana langkah akan melangkah.