Hilirisasi Jadi Solusi Stabilkan Harga Kelapa di Maluku Utara

  • 12 Mar 2026 11:40 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Sofifi – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan hilirisasi merupakan solusi utama untuk meningkatkan sekaligus menstabilkan harga kelapa di tingkat petani.

Menurut Sherly, selama ini sebagian besar kelapa di Maluku Utara masih dijual dalam bentuk kopra, sehingga harganya cenderung fluktuatif mengikuti kondisi pasar. Padahal, jika kelapa diolah melalui industri hilir, nilai jualnya bisa jauh lebih tinggi.

“Harus lebih banyak lagi pabrik kelapa sehingga satu miliar buah kelapa yang diproduksi di Maluku Utara dan dijual dalam bentuk kopra, harapannya bisa dijual di pabrik-pabrik kelapa nanti dengan harga jual yang lebih tinggi,” kata Sherly kepada awak media di Ternate, Senin 9 Maret 2026.

Sherly menjelaskan, saat ini industri hilirisasi kelapa di Maluku Utara baru berkembang di dua wilayah, yakni Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Halmahera Barat.

Di Halmahera Utara terdapat perusahaan pengolahan kelapa PT Natural Indococonut Organik (NICO). Sementara di Halmahera Barat terdapat perusahaan PT Dewa Agrikoko Indonesia atau Dewakoko.

Meski begitu, jumlah pabrik yang ada saat ini dinilai belum mampu menyerap seluruh produksi kelapa dari petani di Maluku Utara. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan investasi di sektor hilirisasi kelapa.

Sherly mengungkapkan, produksi kelapa di Maluku Utara mencapai sekitar satu miliar buah setiap tahun. Dengan potensi sebesar itu, keberadaan industri pengolahan kelapa dinilai sangat penting agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan kopra.

Namun, ia juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, terutama terkait infrastruktur yang menjadi salah satu faktor penting dalam menarik minat investor.

Menurut Sherly, perbaikan infrastruktur akan membantu menekan biaya rantai pasok atau supply chain, sehingga harga beli kelapa dari petani dapat meningkat.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki, seperti infrastruktur, sehingga lebih banyak investor yang mau masuk dan biaya supply chain menurun sehingga daya beli dari pabrik ke petani lebih tinggi,” ujarnya.

Sherly juga memastikan akan ada tambahan investor yang masuk untuk mengembangkan industri hilirisasi kelapa di Maluku Utara dalam waktu dekat.

“Akan ada penambahan investor untuk hilirisasi kelapa. Saat ini sudah dua, dan pabriknya dari dua menuju tiga, ke depan akan bertambah lagi,” katanya.

Dengan bertambahnya jumlah pabrik pengolahan kelapa, pemerintah daerah berharap nilai tambah komoditas kelapa semakin meningkat, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di Maluku Utara.

Rekomendasi Berita