ILUNI-SIL UI Kupas Pemodelan Cuaca Jepang bersama Diaspora
- 07 Des 2025 08:28 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Ikatan Alumni Universitas Indonesia Sekolah Ilmu Lingkungan (ILUNI SIL UI) menggelar Diaspora Talks bertema “Belajar Prakiraan Cuaca bersama Diaspora Indonesia di Jepang”, Sabtu (6/12/2025).
Acara yang berlangsung daring ini menjadi wadah berbagi pengalaman, pengetahuan, dan jejaring antaralumni terkait perkembangan meteorologi dan teknologi cuaca terkini. Sejumlah diaspora Indonesia yang berkecimpung dalam riset dan industri cuaca di Jepang hadir sebagai pembicara.
Para narasumber memaparkan perkembangan terbaru dalam pemodelan cuaca, pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan berbasis satelit, hingga tantangan prakiraan cuaca di wilayah tropis seperti Indonesia.
Ketua ILUNI SIL UI, Andre Notohamojoyo, menekankan pentingnya meningkatkan literasi dan kapasitas ilmiah dalam memahami fenomena iklim yang makin berubah dan ekstrem.
“Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologis. Dengan memperkuat akses pengetahuan global serta bekerja sama dengan diaspora di berbagai negara, kita dapat meningkatkan kemampuan deteksi dini dan mitigasi risiko iklim untuk melindungi masyarakat,” ujarnya.
Tiga pembicara menyoroti pentingnya sistem peringatan dini, integrasi data observasi dengan model numerik resolusi tinggi, serta peluang kolaborasi riset antara Indonesia dan Jepang. Salah satu pembicara, Yovita Wangsaputra, menilai Indonesia membutuhkan data berlatensi sangat rendah untuk nowcasting karena perubahan cuaca yang cepat, sementara Jepang lebih mengandalkan data historis besar untuk prediksi musiman dan risiko topan. Ia menambahkan bahwa Jepang sejak lama memandang informasi cuaca sebagai bagian dari risk communication, bukan sekadar data ilmiah.

Pemateri lainnya, Angela Puspitasari, menekankan pentingnya Indonesia meniru filosofi Jepang dalam menyikapi kondisi geografisnya. Ia mencontohkan konsep Bousai persiapan hari ini sebagai keselamatan esok hari dan Kyojo, yaitu kekuatan komunitas. Menurutnya, budaya tersebut membentuk masyarakat yang tidak takut bencana, tetapi lebih siap menghadapinya.
Sementara itu, Billy Novanta, software engineer di perusahaan climate forecast, menegaskan bahwa cuaca merupakan data strategis yang hanya dapat dimanfaatkan melalui pemahaman konteks lingkungan. Ia menyebut teknologi seperti AI dan satelit hanyalah alat pendukung. “Kita perlu menjadi jembatan solusi dengan mengambil pelajaran global dan menerapkannya melalui kearifan lokal Indonesia,” ujarnya.
Penyelenggaraan Diaspora Talks semakin menegaskan posisi ILUNI SIL UI sebagai platform kolaborasi internasional dalam penguatan ilmu lingkungan yang praktis dan berkelanjutan. Acara ini disambut antusias oleh peneliti, mahasiswa, praktisi kebencanaan, dan pemerhati lingkungan. ILUNI SIL UI menilai kegiatan tersebut membuka perspektif baru dalam menghadapi tantangan iklim dan lingkungan Indonesia ke depan.
Salah satu peserta, Fachruddin Tukuboya, yang juga merupakan ILUNI UI, memberi apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menilai inisiatif tersebut sebagai langkah progresif karena menghadirkan perspektif diaspora yang memiliki akses pada teknologi dan metodologi internasional.
“Meski demikian, ada beberapa catatan kritis yang penting untuk dipertimbangkan agar inisiatif serupa dapat memberikan dampak lebih kuat dan terukur bagi pengurangan risiko bencana (PRB) di Indonesia,” kata Fachruddin yang juga Staf Ahli Gubernur Maluku Utara itu.
Acara Diaspora Talks ini lanjut Fachruddin, dapat menjadi langkah awal yang baik, namun perlu diikuti dengan tindakan nyata dan kolaborasi yang lebih luas untuk meningkatkan pemanfaatan perkiraan cuaca dalam mitigasi risiko bencana.