Tantangan Literasi di Tengah Transformasi Pendidikan Morotai
- 02 Mei 2025 19:22 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Transformasi pendidikan di Maluku Utara terus digalakkan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di tengah berbagai upaya peningkatan akses dan kualitas pendidikan, tantangan literasi masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama di daerah-daerah kepulauan seperti Morotai.
Direktur Pelaksana Program LBH PA Morotai, Djuniar, menyampaikan keprihatinannya terkait kondisi literasi anak-anak di wilayah tersebut. Dalam wawancaranya dengan media, Djuniar menekankan bahwa banyak anak di pelosok Maluku Utara belum memiliki akses memadai terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan lingkungan belajar yang mendukung.
“Transformasi pendidikan memang sedang berjalan, tapi literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis. Ini menyangkut kebiasaan, dukungan lingkungan, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang layak,” ujar Djuniar.
Menurutnya, tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur pendidikan dan minimnya program literasi berbasis komunitas yang menyentuh langsung ke masyarakat desa. Ia menilai, upaya pemerintah perlu diimbangi dengan partisipasi aktif dari lembaga masyarakat sipil, orang tua, dan tokoh lokal dalam membangun budaya literasi sejak dini.
LBH PA Morotai sendiri aktif menjalankan program literasi berbasis perlindungan anak yang menyasar sekolah-sekolah dasar dan komunitas lokal. Djuniar menyebut bahwa keterlibatan masyarakat dalam program ini memberikan harapan baru dalam memperkuat pemahaman literasi sebagai bagian dari perlindungan dan pemberdayaan anak.
“Anak-anak perlu merasa bahwa membaca itu menyenangkan, bukan beban. Dan ini butuh pendekatan yang inklusif, kreatif, dan terus menerus,” tambahnya.
Djuniar juga mendorong sinergi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan lembaga non-profit untuk menciptakan strategi literasi yang adaptif terhadap konteks geografis dan sosial budaya Maluku Utara.
Sebagai wilayah kepulauan dengan keragaman budaya, Maluku Utara menghadapi tantangan unik dalam dunia pendidikan. Namun dengan kolaborasi dan fokus pada kebutuhan dasar anak, transformasi pendidikan diharapkan tak hanya sebatas infrastruktur, tetapi juga menyentuh esensi pembelajaran yang memerdekakan.