Gempa 3,8 MG, BMKG Ungkap Ancaman Sesar Aktif 100 KM di Bulungan
- 07 Mar 2026 10:12 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tanjung Selor - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,8 yang mengguncang wilayah Bulungan pada Sabtu (7/3/2026) pagi membuka fakta adanya sesar aktif sepanjang sekitar 100 kilometer yang membentang di kawasan tersebut.
Keberadaan patahan ini berpotensi memicu gempa dengan kekuatan jauh lebih besar.
Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid menjelaskan, gempa yang baru saja terjadi masih tergolong kecil hingga menengah dan merupakan bagian dari aktivitas sesar aktif di sekitar wilayah Tanjung Selor.
“Magnitudo 3,8 ini termasuk yang kecil sampai sedang. Kalau potensi maksimum di daerah Bulungan bisa sampai sekitar 6,9 hingga 7,0 magnitudo,” jelasnya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, aktivitas gempa di wilayah tersebut bukan hal baru. Wilayah Bulungan dan sekitarnya memang berada di jalur patahan aktif yang memanjang cukup jauh.
Selain sesar yang telah dikenal seperti Sesar Tarakan yang berada di antara Pulau Bunyu dan Tarakan, terdapat pula sesar aktif lain di sekitar wilayah Tanjung Selor. Namun hingga kini patahan tersebut belum memiliki nama resmi.
“Ada sesar aktif di sekitar wilayah Tanjung Selor, tetapi memang belum diberi nama. Kami sementara menyebutnya sesar aktif di sekitar Bulungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jalur sesar tersebut memanjang dari arah tenggara hingga barat laut dan posisinya sejajar dengan Sesar Tarakan.
Bahkan jalurnya diperkirakan membentang dari wilayah Tarakan, mellewati Tanjung Selor, sama halnya dengan arah Sesar-sesar lain yg benrarah Tenggara -baratlaut, seperti Sesar Mangkaliat dan Sangkulirang di Kalimantan Timur.
“Panjang sesarnya hampir 100 kilometer. Dengan panjang seperti itu, potensi gempa yang bisa terjadi memang dapat mencapai sekitar 6,9 hingga 7,0 magnitudo,” katanya.
Gempa yang terjadi pada Sabtu pagi itu disebut berasal dari aktivitas sesar aktif di sekitar perairan Tanjung Selor. Karena patahan tersebut masih aktif, kemungkinan gempa susulan tetap ada.
Rasmid menjelaskan, gempa bumi merupakan proses pelepasan energi yang tersimpan di dalam batuan akibat tekanan yang terus menumpuk.
“Ketika tekanan atau stres di dalam batuan sudah terkumpul dan tidak mampu ditahan lagi, maka energi itu dilepaskan dalam bentuk gempa. Setelah itu energi bisa terkumpul lagi dan dilepaskan kembali. Proses ini bisa terjadi berulang,” jelasnya.
Meski memiliki potensi gempa cukup besar, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memastikan sesar aktif di wilayah Bulungan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Menurut Rasmid, tsunami hanya dapat terjadi jika memenuhi sejumlah syarat tertentu, seperti gempa besar yang terjadi di dasar laut, memiliki kekuatan di atas magnitudo 7, serta pergerakan patahan yang mengangkat dasar laut sehingga memindahkan volume air laut.
“Kalau tsunami itu ada syarat-syaratnya. Harus terjadi di dasar laut, magnitudonya besar di atas 7, dan patahannya bergerak naik sehingga mengubah volume air laut,” terangnya.
Sementara gempa yang terjadi di Bulungan bersumber dari sesar dangkal di daratan atau perairan dangkal, sehingga tidak memicu perubahan volume air laut yang dapat menyebabkan tsunami.
“Gempa ini dangkal dan berada di daratan atau perairan dangkal, sehingga kemungkinan untuk menimbulkan tsunami sangat kecil,” tegasnya.
BMKG juga menegaskan bahwa hingga saat ini ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi secara pasti kapan gempa bumi akan terjadi.
“Gempa bumi berbeda dengan cuaca. Kalau cuaca bisa diprediksi beberapa hari bahkan bulan ke depan. Tetapi gempa bumi sampai saat ini belum ada formulasi yang bisa memprediksi kapan akan terjadi,” pungkasnya. (rln/sti)