Josef Stalin: Diktator Kejam Uni Soviet

  • 06 Nov 2025 18:37 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon: Moskow, musim dingin tahun 1953. Suhu menusuk tulang ketika kabar itu menyebar: Iosif Vissarionovich Dzhugashvili, yang lebih dikenal dunia dengan nama Josef Stalin, telah wafat. Di jalan-jalan yang berselimut salju, warga Uni Soviet menundukkan kepala, sebagian dengan air mata, sebagian dengan kelegaan yang tak diucapkan. Pemimpin yang selama tiga dekade memegang kendali besi atas negeri terbesar di dunia itu akhirnya berhenti bernafas. Namun bayangannya, hingga kini, masih membekas dalam sejarah manusia.

Stalin lahir pada 18 Desember 1878 di Gori, Georgia, dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang tukang sepatu pemabuk, sementara ibunya seorang wanita religius yang berharap putranya menjadi pendeta. Tapi sejarah punya jalan lain. Josef muda yang cerdas dan ambisius lebih tertarik pada ide-ide revolusi daripada doa di seminari.

Di usia muda, ia bergabung dengan kelompok Marxis dan mulai menggunakan nama samaran “Stalin” — yang berarti manusia baja. Nama itu bukan sekadar julukan; kelak, ia benar-benar menjelma menjadi simbol kekuatan dingin dan tak tergoyahkan di jantung kekuasaan Soviet.

Setelah kematian Vladimir Lenin pada 1924, Stalin perlahan tapi pasti mengeliminasi para pesaing politiknya, termasuk Leon Trotsky. Dalam waktu singkat, ia mengubah Uni Soviet menjadi negara dengan sistem totalitarian yang sangat terpusat.

Di bawah kepemimpinannya, industrialisasi berlangsung pesat. Dari padang-stepa Siberia hingga pabrik baja di Magnitogorsk, Uni Soviet berdiri gagah sebagai kekuatan ekonomi baru. Namun harga yang harus dibayar amat mahal: jutaan jiwa melayang dalam program kolektivisasi pertanian dan pembersihan besar-besaran (Great Purge) pada akhir 1930-an.

“Stalin bukan hanya membangun pabrik, tapi juga ketakutan,” ujar seorang sejarawan Rusia dalam dokumenter tentang masa itu. “Ia mengubah seluruh negeri menjadi mesin disiplin dan kecurigaan.”

Ironisnya, sosok yang menindas bangsanya sendiri juga menjadi penyelamat di mata sebagian rakyat ketika Perang Dunia II pecah. Di bawah panji “Tanah Air Ibu Pertiwi”, Stalin memimpin Uni Soviet melawan invasi Nazi Jerman. Pertempuran Stalingrad—yang kemudian memakai namanya—menjadi simbol keberanian rakyat Soviet dan titik balik perang di Eropa.

Namun setelah kemenangan itu, Stalin kembali pada wataknya yang keras. Perang berakhir, tapi perburuan musuh dalam negeri terus berlanjut. Dunia memasuki era Perang Dingin, dan Stalin berdiri di garis depan blok Timur, menatap tajam ke arah Barat dengan kebijakan politik luar negeri yang kaku dan penuh kecurigaan.

Hari ini, lebih dari tujuh dekade setelah kematiannya, nama Stalin masih memecah belah Rusia dan dunia. Sebagian mengingatnya sebagai pemimpin besar yang mengubah Uni Soviet menjadi kekuatan adidaya. Namun bagi banyak orang lain, ia tetap simbol kekejaman, penindasan, dan penderitaan.

Di Gori, kota kelahirannya, museum Stalin masih berdiri. Patungnya pernah diturunkan, lalu didirikan kembali. Seorang pengunjung tua berbisik pelan di depan potret sang pemimpin:

“Dia menyelamatkan kami dari Hitler, tapi menghancurkan kami dengan tangannya sendiri.”

Josef Stalin bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin dari paradoks kekuasaan manusia: keberanian yang berubah menjadi tirani, visi yang membuahkan ketakutan. Dalam setiap bab sejarah abad ke-20, bayangan “manusia baja” itu masih terasa—dingin, kokoh, dan tak mudah dilupakan.

Rekomendasi Berita