Luka Abadi Di Bumi Sakura: Hirosima Dan Nagasaki
- 04 Nov 2025 20:24 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon: Pagi 6 Agustus 1945, langit Hiroshima tampak cerah. Anak-anak bersiap ke sekolah, para pekerja mulai berangkat ke pabrik, dan kehidupan berjalan seperti biasa di kota kecil di selatan Jepang itu. Tak ada yang tahu, pagi itu akan mengubah sejarah dunia selamanya.
Tepat pukul 08.15 waktu setempat, pesawat pembom B-29 Amerika Serikat bernama Enola Gay melayang di atas kota. Dari ketinggian 9.600 meter, sebuah bom dijatuhkan. Bom itu diberi nama “Little Boy” — dan dalam hitungan detik, Hiroshima berubah menjadi neraka di bumi.
Ledakan berkekuatan 15 kiloton TNT itu menghancurkan hampir seluruh kota. Suhu di pusat ledakan mencapai lebih dari 4.000 derajat Celsius. Sekitar 140.000 jiwa tewas pada akhir tahun 1945, sebagian besar akibat luka bakar, radiasi, dan penyakit yang datang kemudian.
Tiga hari setelahnya, 9 Agustus 1945, penderitaan belum berakhir. Kali ini giliran Nagasaki, kota pelabuhan yang menjadi pusat industri dan militer Jepang. Pesawat B-29 Bockscar menjatuhkan bom kedua bernama “Fat Man” dengan daya ledak lebih besar, sekitar 21 kiloton TNT.
Sekitar 74.000 orang tewas, dan sebagian besar wilayah Nagasaki rata dengan tanah.
Bagi para penyintas — yang dikenal dengan sebutan hibakusha, luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Mereka hidup dalam ketakutan akan penyakit radiasi, diskriminasi sosial, dan trauma mendalam.
“Langit menjadi merah, tubuh orang-orang terbakar, dan kota kami hilang dalam sekejap,” kenang Setsuko Thurlow, salah satu penyintas Hiroshima yang kemudian menjadi aktivis perdamaian dunia.
Selama bertahun-tahun, banyak hibakusha yang memilih diam. Namun, sebagian lainnya bersuara, berkeliling dunia untuk mengingatkan bahwa perang dan senjata nuklir tidak pernah membawa kedamaian.
Dua bom atom itu mempercepat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Enam hari setelah pengeboman Nagasaki, Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu. Perang Dunia II pun resmi berakhir pada 15 Agustus 1945.
Namun, kemenangan itu dibayar dengan penderitaan manusia yang luar biasa. Dunia pun tersadar akan kekuatan destruktif senjata nuklir.
PBB kemudian mendirikan berbagai lembaga dan perjanjian internasional, termasuk Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Kini, Hiroshima dan Nagasaki menjelma menjadi simbol perdamaian dunia. Di Hiroshima berdiri Peace Memorial Park, tempat api abadi menyala sebagai pengingat atas tragedi tersebut. Setiap 6 dan 9 Agustus, ribuan orang berkumpul untuk berdoa, melepaskan lentera ke sungai, dan mengenang para korban.
Tragedi Hiroshima dan Nagasaki bukan sekadar catatan sejarah, melainkan peringatan tentang bahaya kebencian dan keserakahan. Di tengah kemajuan teknologi militer masa kini, pesan dari kedua kota itu semakin relevan: bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama umat manusia.