Prabowo Dinilai Hadapi Beban Berat di Tahun Pertama
- 20 Okt 2025 17:48 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Andrik Purwasito, menilai pemerintahan Prabowo-Gibran di tahun pertama menghadapi sejumlah tantangan besar. Salah satunya adalah beban politik dan struktural yang masih dipengaruhi oleh warisan kabinet sebelumnya.
“Pak Prabowo itu dulunya mendukung Pak Jokowi mati-matian. Tiba-tiba dia mendapat beban yang banyak, beban hutang, beban wakil presiden, lalu beban orang-orangnya Pak Jokowi yang masih di kabinet. Semuanya dianggap satu hal yang harus dibersihkan kalau ia ingin memerintah secara murni dan konsekuen,” ujarnya kepada RRI, Senin (20/10/2025).
Andrik menilai beberapa kebijakan yang dijalankan belum berjalan mulus karena berbagai tantangan di lapangan. Salah satunya adalah munculnya persoalan di beberapa proyek besar yang dinilai tidak wajar.
“Kebijakan-kebijakannya akhirnya tidak mulus ya, banyak tantangan seperti MBG. Itu saya kira tidak normal, tiba-tiba ada yang keracunan sampai ratusan orang. Itu sesuatu yang perlu diselidiki lebih mendalam,” ucapnya.
Ia juga menyinggung adanya spekulasi politik di masyarakat terkait dinamika di pemerintahan, termasuk potensi agenda terselubung yang bisa memengaruhi posisi Prabowo ke depan.
“Banyak prediksi yang mengarah pada apakah supaya Gibran bisa takdir jadi presiden, saya kurang tahu persis. Tapi suara masyarakat saya melihatnya seperti itu, jadi memang ada strategi di luar itu,” katanya.
Lebih lanjut, Andrik menyoroti kondisi ekonomi yang masih terbebani utang serta pengelolaan bisnis negara yang belum sepenuhnya efisien. Menurutnya, jika pembiayaan proyek dilakukan dengan dana publik tanpa keuntungan yang jelas, maka rakyat akan dirugikan.
“Kalau utangnya ditukar dengan APBN kan berarti menggunakan uang rakyat. Padahal utangnya banyak sekali. Kalau enggak hati-hati, Pak Prabowo bisa terbebani dan itu bisa berdampak strategis,” ujarnya.
Meski demikian, Andrik menilai Prabowo masih mampu menjaga keseimbangan politik di tengah tekanan dari berbagai pihak, termasuk hubungan dengan mantan presiden Jokowi.
“Pak Prabowo berhati-hati dalam menstabilkan pemerintahannya maupun tetap berdakwahan dengan Pak Jokowi tanpa mengaktifasi Pak Jokowi. Saya kira itu keseimbangan yang bagus,” ucapnya.
Menutup pandangannya, Andrik optimistis bahwa Prabowo memiliki strategi tersendiri untuk mempercepat kemakmuran rakyat, terutama dalam memberantas korupsi dan menjaga stabilitas nasional.
“Pak Prabowo pastinya menyiapkan diri untuk mempercepat kemakmuran rakyat. Jadi harus menghilangkan kasus korupsi yang sampai 5.000 triliun. Saya kira dia cukup berhati-hati agar strateginya tidak diketahui lawan, supaya keberpihakan terhadap rakyat bisa diwujudkan,” katanya. (Ase)