Narasi Kebangsaan & Kebhinekaan Harus Terus Diwartakan

  • 04 Mar 2026 12:35 WIB
  •  Sungailiat

KBRN, Pangkalpinang : Narasi kebangsaan, kebhinekaan, dan keharmonisan harus terus digelorakan dan diwartakan kepada masyarakat. Nilai-nilai tersebut tak boleh padam meski menghadapi rival kemajuan teknologi informasi yang semakin masuk ke dalam jiwa manusia Indonesia masa kini.

Pengikat nilai-nilai kebangsaan itu menurut Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian adalah Bhinneka Tunggal Ika.

“Kita (bangsa Indonesia) punya prinsip berbeda-beda tapi tetap satu, sesuai juga dengan pepatah melayunya, ‘di mane perigi digalik di situ aik disauk’ yang artinya ‘di mana bumi dihuni, di situ adat dipakai’, identitas itu yang harus kita pertahankan sampai kapanpun,” katanya kepada RRI, Rabu, 4 Maret 2026.

Akhmad Elvian mengambil contoh perjuangan rakyat Bangka saat melawan dominasi asing, Belanda dan Jepang di zaman pergerakan kemerdekaan. Saat perang rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir pada saat itu, kebhinekaan, kerukunan, dan keharmonisan begitu nyata.

“Misalnya kita lihat dalam perang rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, itu semua komponen masyarakat baik orang Bangka, Bugis, Melayu, Tionghoa, Jawa, semua bersatu padu melawan dominasi kekuasaan bangsa asing.

Dengan terus digelorakannya semangat kebangsaan, kebhinekaan dan keharmonisan kepada masyarakat, diharapkan generasi penerus semakin memahami dan bertanggungjawab memelihara pentingnya nilai-nilai luhur warisan pendiri negeri.

Sementara salah seorang pegiat seni Bangka Belitung, Arif Budi, menyebut, degradasi nilai kebhinekaan dewasa ini sudah semakin jelas terlihat. Mulai banyak berseliweran informasi yang seperti hendak membuat disharmoni elemen bangsa.

“Dan ini bahaya laten jika kita rakyat Indonesia terlena, karena selama ini merasa nyaman, kebhinekaan terjaga, jadi lupa merawat, akibatnya mulai ada saja oknum yang berniat memecah belah anak bangsa, ini harus terus kita waspadai,” ucapnya.

Rekomendasi Berita