Faktor Ekonomi hingga Media Sosial Picu Peningkatan Kriminalitas

  • 11 Mar 2026 14:27 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – Praktisi psikologi forensik Jawa Timur, Riza Wahyuni, menilai peningkatan aktivitas kriminalitas yang kerap terjadi menjelang Idulfitri umumnya dipicu oleh tekanan ekonomi serta persoalan psikologis pelaku.

Menurutnya, memasuki Ramadan hingga menjelang Lebaran biasanya terjadi peningkatan kasus kejahatan seperti penipuan dan pencurian yang berkaitan erat dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

“Kalau kita melihat fenomena menjelang Lebaran, biasanya masalah ekonomi menjadi pemicu utama. Kasus penipuan dan pencurian cukup tinggi terjadi pada periode ini,” ujarnya dalam dialog interaktif Sumenep Menyapa.

Namun, Riza mengungkapkan bahwa fenomena yang cukup mengkhawatirkan pada tahun ini adalah meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Beberapa kasus yang sering muncul antara lain kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual terhadap anak, hingga kekerasan yang dipicu oleh iming-iming uang.

Selain itu, ia juga menyoroti meningkatnya perilaku tawuran di kalangan remaja yang dipengaruhi oleh keberadaan kelompok atau geng.

“Anak-anak sekarang memiliki kelompok geng yang kadang bersaing satu sama lain. Persaingan itu bisa mengarah pada perilaku agresif bahkan tindakan kriminal,” katanya, Rabu 11 Maret 2026

Dari perspektif psikologi forensik, Riza menjelaskan bahwa pelaku kejahatan umumnya memiliki persoalan pada kepribadian, meski tidak selalu berkaitan dengan gangguan jiwa. Beberapa pelaku memiliki kecenderungan kepribadian narsistik, emosi tidak stabil, hingga perilaku menyimpang seperti pedofilia.

Ketika kondisi tersebut dipadukan dengan tekanan ekonomi, kecemburuan, dendam, atau sakit hati, maka potensi munculnya tindakan kriminal menjadi lebih besar.

“Jadi sebenarnya ada problem kepribadian yang kemudian dipicu oleh faktor eksternal seperti ekonomi, konflik rumah tangga, atau tekanan sosial,” katanya.

Riza juga menilai media sosial memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat, terutama sebagai role model atau contoh perilaku yang ditiru. Menurutnya, konten yang sering dilihat seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan respons emosionalnya.

“Media sosial itu menjadi role model. Orang melihat contoh perilaku di sana, kemudian tanpa sadar menirunya. Ini bisa memicu perilaku yang lebih ekstrem,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan mental, yang pada akhirnya berkontribusi pada meningkatnya konflik dalam kehidupan sehari-hari.

Riza menambahkan bahwa kehadiran aparat keamanan di titik-titik rawan kriminalitas sangat penting, terutama di kawasan padat penduduk, pusat keramaian, pasar, hingga area perdagangan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

“Jumlah aparat tentu terbatas, sehingga masyarakat perlu terlibat. Mulai dari tingkat RT, RW hingga desa untuk menjaga keamanan lingkungan,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya dalam melindungi perempuan dan anak dari potensi kekerasan.

“Saya sering mengatakan, masyarakat harus menjadi CCTV bagi perempuan dan anak di sekitarnya. Jangan menganggap itu bukan urusan kita,” ujarnya.

Di akhir perbincangan, Riza mengimbau masyarakat agar berani melapor jika menemukan tindak kejahatan atau kekerasan di lingkungan sekitar. Laporan dapat disampaikan kepada tokoh masyarakat maupun aparat kepolisian agar segera ditangani.

Ia juga mengapresiasi upaya aparat keamanan yang terus menjaga ketertiban masyarakat, terutama selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri, agar situasi tetap aman dan kondusif.

Rekomendasi Berita