Sayyi, TNI dan Senja yang Menyimpan Cerita di Mandala

  • 11 Mar 2026 00:50 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Senja Ramadan turun perlahan di Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep. Matahari mulai merunduk di balik perbukitan kecil yang mengelilingi desa. Sore itu, Sabtu 21 Februari 2026, cahaya jingga memantul lembut di hamparan sawah padi yang mulai menguning di Dusun Karang.

Angin sore berembus pelan, menggerakkan daun-daun padi yang bergoyang seperti ombak kecil. Suasana desa terasa tenang, seolah menunggu waktu berbuka yang sebentar lagi tiba.

Di teras sebuah rumah sederhana, seorang pria tua duduk memandang hamparan sawah itu dalam diam. Tatapannya jauh, seakan menyusuri kembali perjalanan hidup yang pernah ia lalui di tempat yang sama.

Pria itu bernama Sayyi. Usianya hampir menginjak 60 tahun. Wajahnya terlihat tenang, meski garis-garis usia dan pengalaman hidup tampak jelas di sana. Namun tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu.

Sejak tiga tahun terakhir, stroke membuat sebagian tubuhnya sulit digerakkan. Langkahnya tidak lagi mantap. Untuk berjalan beberapa meter saja ia sering membutuhkan bantuan. Aktivitas yang dahulu terasa ringan kini menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

"Bapak sakit stoke, jadi hanya duduk, sudah tidak bisa beraktivitas," kata Qibtiyah, anak perempuan Sayyi.

Kini sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Sesekali ia duduk di teras, memandang sawah yang terbentang di depan rumahnya. Sawah itu bukan sekadar pemandangan bagi Sayyi. Di sanalah sebagian besar hidupnya pernah dihabiskan.

Bertahun-tahun lamanya ia menjalani kehidupan sebagai petani. Pagi hari sebelum matahari terbit, ia sudah berjalan menuju sawah dengan cangkul di tangan. Siang hari ia beristirahat sebentar di bawah pohon, lalu kembali bekerja hingga sore menjelang. Ketika matahari mulai tenggelam, ia pulang dengan tubuh lelah namun hati yang terasa ringan.

"Dulu bapak hampir setiap hari ke sawah. Dari pagi sampai sore. Bapak jarang sekali diam di rumah," dia bercerita sambil mengingat.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Sekitar tiga tahun lalu, stroke datang tanpa diduga. Penyakit itu perlahan mengubah banyak hal dalam kehidupan Sayyi.

Tubuh yang dulu kuat kini tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu. Sawah yang dulu ia garap sendiri kini hanya bisa ia pandangi dari kejauhan.

Ujian itu semakin terasa berat ketika sang istri yang selama puluhan tahun menemaninya lebih dahulu berpulang. Perempuan yang selalu menjadi tempat berbagi cerita itu pergi meninggalkan kesunyian panjang di rumah kecil mereka.

Kini Sayyi tinggal bersama Qibtiyah. Perempuan itu menjadi satu-satunya yang merawatnya setiap hari. Suami Qibtiyah sudah dua tahun merantau ke luar Madura untuk mencari nafkah. Sejak saat itu, ia menjalani kehidupan dengan tanggung jawab yang tidak ringan.

Ia merawat ayahnya, mengurus rumah, sekaligus tetap bekerja di sawah agar dapur tetap mengepul. Setiap hari ia berangkat ke ladang sejak pagi, lalu kembali sebelum sore untuk memastikan ayahnya dalam keadaan baik.

Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan, Qibtiyah keluar dari dapur membawa segelas teh hangat. Ia meletakkannya di meja kecil di dekat ayahnya. Aroma teh yang mengepul perlahan bercampur dengan udara sore yang sejuk.

"Sekarang bapak lebih sering duduk di rumah. Kalau sore biasanya duduk di teras melihat sawah saja," kata Qibtiyah.

Meski hidup dalam keterbatasan, Qibtiyah berusaha menjalani semuanya dengan sabar. Sawah yang mereka miliki tetap ia garap. Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saya hanya bertani. Hasilnya kadang cukup untuk makan saja. Yang penting bapak tetap bisa kami rawat," tuturnya.

Di tengah kehidupan sederhana itu, rumah yang mereka tempati sebenarnya sudah lama dalam kondisi memprihatinkan. Atapnya mulai lapuk dimakan usia. Beberapa bagian dinding terlihat retak. Ketika hujan turun, air kerap merembes masuk ke dalam rumah.

Pada malam-malam tertentu, Qibtiyah harus memindahkan ember ke beberapa sudut ruangan untuk menampung air yang menetes dari atap. Bagi keluarga kecil itu, memperbaiki rumah bukan perkara mudah. Biaya yang dibutuhkan jauh melampaui kemampuan mereka.

"Rumah ini sudah lama rusak, tetapi kami tidak punya biaya untuk memperbaikinya," ucap Qibtiyah lirih.

TMMD Hadir Membangun Mandala

Harapan baru mulai hadir ketika program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 0827/Sumenep digelar di Desa Mandala. Program yang berlangsung sejak 10 Februari hingga 11 Maret 2026 itu membawa semangat gotong royong dalam pembangunan desa.

Selama sekitar satu bulan, personel TNI bersama masyarakat bekerja bahu-membahu melaksanakan berbagai pembangunan yang dibutuhkan warga.

Sejak pagi hari, prajurit TNI dan warga desa terlihat bergotong royong di berbagai titik pembangunan. Ada yang mengaduk semen, ada yang mengangkat batu, sementara yang lain membantu menyiapkan bahan bangunan.

Suasana kebersamaan itu menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat di Desa Mandala selama pelaksanaan TMMD.

Bagi masyarakat setempat, kehadiran para prajurit TNI bukan sekadar menjalankan program pembangunan, tetapi juga membawa semangat kebersamaan yang menghidupkan kembali nilai gotong royong di desa.

Salah satu proyek utama dalam program tersebut adalah pembangunan jalan sepanjang satu kilometer dengan lebar 2,5 meter di Dusun Karang. Jalan itu menjadi akses penting bagi masyarakat, terutama para petani yang setiap hari membawa hasil panen dari ladang menuju permukiman maupun pasar.

Sebelumnya, jalan tersebut hanya berupa jalan tanah yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan. Ketika hujan turun, jalan menjadi licin dan berlumpur sehingga kendaraan sering kesulitan melintas. Kondisi itu kerap menyulitkan masyarakat dalam mengangkut hasil panen.

Melalui program TMMD, jalan tersebut kini diperbaiki sehingga lebih mudah dilalui. Bagi warga desa, perubahan itu memberikan dampak yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selain pembangunan jalan, Satgas TMMD juga membangun berbagai fasilitas umum. Di Masjid Baiturrahman dibangun MCK dan tandon air untuk mendukung aktivitas ibadah masyarakat. Masjid tersebut juga mendapatkan pemasangan keramik seluas 102 meter persegi serta kanopi berukuran 17 meter x 4 meter sehingga lingkungan masjid menjadi lebih nyaman bagi jamaah.

Di Pondok Pesantren Miftahul Ullum, personel TMMD bersama masyarakat juga memasang paving stone seluas 408 meter persegi. Sementara itu, pembangunan tembok penahan tanah sepanjang 25 meter dilakukan untuk memperkuat struktur tanah di sekitar permukiman warga.

Program TMMD juga tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Berbagai kegiatan nonfisik turut dilaksanakan, seperti penyuluhan wawasan kebangsaan, bahaya narkoba, penyuluhan pertanian, pencegahan stunting, hingga penyuluhan kesehatan dan ketahanan pangan.

Sinergi Menyukseskan TMMD

Pelaksanaan TMMD di Desa Mandala juga mendapat perhatian dari Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev). Pada Rabu, 4 Maret 2026, Ketua Tim Wasev TMMD ke-127, Brigjen TNI Antoninho Rangel Da Silva, meninjau langsung sejumlah sasaran pembangunan bersama Komandan Satgas TMMD Letkol Inf Citra Persada.

Dalam peninjauan tersebut, tim melihat langsung progres berbagai pekerjaan fisik maupun nonfisik.

"Dari sejumlah lokasi yang kami tinjau, progresnya sesuai perencanaan. Harapannya saat penutupan seluruh sasaran tuntas 100 persen, clear and clean," terang Brigjen TNI Antoninho.

Ia menilai sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor penting keberhasilan program TMMD.

"Sinergi yang dibangun secara holistik, integratif, masif, dan komprehensif menghasilkan capaian yang baik. Ini bukti kemanunggalan TNI dan rakyat berjalan optimal," imbuhnya.

Pemerintah Kabupaten Sumenep juga menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sumenep, Sunaryanto, menilai kolaborasi antara TNI dan pemerintah daerah memberi kontribusi nyata bagi percepatan pembangunan desa.

"Program ini menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Kami berharap kemitraan seperti ini terus berlanjut untuk mendukung pemerataan pembangunan," jelas Sunaryanto.

Kepala Desa Mandala, Modellir, mengatakan masyarakat merasakan langsung manfaat program tersebut.

"Warga sangat antusias dan terbantu, terutama dalam penyediaan air bersih dan perbaikan rumah warga," ucapnya.

Kado Idulfitri dari TNI

Di antara berbagai pembangunan yang dilakukan melalui program TMMD, bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi salah satu yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Rumah Sayyi menjadi salah satu dari lima rumah warga di Desa Mandala yang mendapatkan bantuan tersebut.

Rumah lamanya yang rapuh kini dibangun kembali oleh personel Satgas TMMD bersama masyarakat. Bangunan baru itu berdiri sederhana dengan ukuran sekitar 7 meter x 5 meter, namun jauh lebih kokoh dan layak dihuni.

Komandan Satgas TMMD ke-127 Kodim 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada, mengatakan program RTLH merupakan bagian penting dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal yang layak.

"Program RTLH dalam TMMD ini kami tujukan untuk membantu masyarakat yang selama ini tinggal di rumah dengan kondisi kurang layak. Kami ingin memastikan mereka dapat memiliki tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan nyaman untuk dihuni bersama keluarga,” tegas Letkol Inf Citra Persada.

Menurutnya, pembangunan rumah bagi warga bukan sekadar membangun fisik bangunan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi kehidupan masyarakat desa.

"Bagi kami, rumah bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga tempat keluarga membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itu melalui TMMD kami berupaya menghadirkan rumah yang layak bagi masyarakat yang membutuhkan," ucap dia.

Ia menambahkan, seluruh proses pembangunan rumah dilakukan bersama masyarakat sebagai wujud kemanunggalan TNI dan rakyat.

"Seluruh proses pembangunan ini dilakukan bersama masyarakat. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama TMMD. Kami berharap rumah yang dibangun ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi warga," tutur Letkol Inf Citra Persada.

Bagi Qibtiyah, rumah baru itu terasa seperti berkah yang datang di bulan Ramadan.

"Sekarang rumah kami sudah bagus. Kalau hujan tidak bocor lagi. Bapak juga lebih nyaman tinggal di rumah," ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui dirumahnya.

Tokoh masyarakat Desa Mandala, H. Rasyid, menilai berbagai pembangunan yang dilakukan melalui program TMMD membawa perubahan nyata bagi kehidupan warga.

"Kami sangat bersyukur dengan adanya program TMMD ini. Jalan diperbaiki, fasilitas umum dibangun, dan rumah warga yang sebelumnya tidak layak kini bisa dihuni dengan lebih baik. Bagi masyarakat Mandala, ini benar-benar seperti kado Idulfitri dari TNI," ucap H. Rasyid.

Menjelang azan magrib berkumandang di Desa Mandala, Qibtiyah kembali duduk di samping ayahnya di teras rumah baru mereka. Angin sore masih berembus lembut membawa aroma tanah sawah yang mulai mengering.

Di senja Ramadan itu, seorang ayah dan anak duduk berdampingan di teras rumah yang kini berdiri kokoh.

Bagi mereka, kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, sebuah rumah yang hangat untuk bernaung, sekaligus kado Idulfitri yang datang lebih awal bagi kehidupan mereka.

Rekomendasi Berita