Kepulauan Sapeken dan Upaya Mewujudkan Pembangunan Merata
- 03 Mar 2026 21:54 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Kepulauan Sapeken Sumenep (HIMPASS) angkatan 25 menyoroti ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Akses listrik, internet, pendidikan, kesehatan, dan jalan dinilai belum merata dibandingkan wilayah daratan.
Samri Hidayat, mahasiswa PGSD Universitas PGRI Sumenep asal Tanjung Kiaok, menyampaikan bahwa pasokan listrik di daerahnya belum tersedia 24 jam. Listrik umumnya menyala sekitar 12 jam pada malam hari dan belum sepenuhnya stabil. Saat padam, sebagian warga menggunakan genset, sementara lainnya masih mengandalkan lilin, sehingga berdampak pada aktivitas belajar anak-anak. Akses internet juga terbatas, bahkan warga kerap harus menuju tepi pantai untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik.
Muhammad Zaky, mahasiswa asal Sapeken yang juga aktif di HIMPASS, menilai sektor kesehatan menjadi persoalan paling mendesak. Meski tersedia puskesmas, fasilitasnya belum memadai untuk menangani kasus serius sehingga pasien harus dirujuk ke daratan. Perjalanan laut yang jauh serta kondisi cuaca yang tidak menentu kerap menjadi tantangan dan berisiko bagi keselamatan pasien.
Di bidang pendidikan, keduanya menyoroti kondisi fisik sejumlah sekolah di pulau kecil yang masih kurang layak serta keterbatasan tenaga pengajar. Sementara itu, sekitar 50 persen jalan di wilayah mereka telah beraspal, namun kualitasnya dinilai belum bertahan lama dan mudah rusak saat musim hujan maupun kemarau.
Keduanya berharap pemerintah memberikan perhatian berkelanjutan terhadap wilayah kepulauan agar pembangunan lebih merata. Mereka menginginkan layanan listrik, internet, kesehatan, dan pendidikan di kepulauan dapat setara dengan wilayah daratan.
Sementara itu, Camat Sapeken, Hamka, menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya memajukan wilayah kepulauan, baik di sektor pendidikan, kesehatan, maupun penerangan. Untuk kelistrikan, Pulau Sapeken dan Pulau Sepanjang saat ini telah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dikelola PLN. “Di pulau lain ada yang menggunakan PLTS dari PLN, dan ada juga yang memang belum teraliri listrik. Namun demikian, pemerintah terus berupaya memenuhi fasilitas tersebut secara bertahap,” ujarnya singkat.