Mahasiswa Kepulauan Berani Wujudkan Mimpi

  • 25 Feb 2026 16:21 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Mahasiswa asal kepulauan di Kabupaten Sumenep menegaskan komitmen mereka untuk menempuh pendidikan tinggi di kota demi memperluas wawasan dan memperbaiki kondisi sosial-ekonomi daerah asal. Hal itu disampaikan dalam dialog interaktif di RRI Pro2 Sumenep yang menghadirkan Husni Tamrin dan Ayu Rizki Aulia, kader Himpunan Mahasiswa Kepulauan (HIMPASS) angkatan 25.

Dalam perbincangan tersebut, keduanya mengakui bahwa keputusan merantau bukan langkah mudah. Keterbatasan fasilitas di pulau, tantangan ekonomi keluarga, hingga tekanan mental menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi mahasiswa perantauan.

“Pendidikan adalah kesempatan besar bagi anak-anak pulau. Kalau kita tetap di kampung tanpa mencoba keluar, kita tidak akan melihat dunia yang lebih luas,” ujar Ayu Rizki Aulia kepada RRI, Kamis, 25 Februari 2026, mahasiswa Ilmu Komunikasi semester dua.

Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar adalah persoalan biaya dan keraguan terhadap masa depan. Namun, menurutnya, hal itu justru menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa mahasiswa kepulauan mampu bersaing.

Senada dengan itu, Husni Tamrin menekankan pentingnya kekuatan mental dalam menjalani kehidupan di kota. “Kalau mental tidak terbentuk, kita tidak akan bertahan lama di perantauan. Selain ekonomi, lingkungan dan cara kita menyesuaikan diri juga sangat menentukan,” kata Husni.

Keduanya juga menyoroti perbedaan fasilitas antara wilayah kepulauan dan daratan, terutama terkait akses listrik dan jaringan komunikasi. Beberapa pulau bahkan belum menikmati listrik selama 24 jam penuh. Meski demikian, perkembangan infrastruktur seperti penyediaan jaringan internet berbasis satelit dinilai membantu mahasiswa tetap terhubung dengan keluarga.

“Harapan kami, setelah lulus nanti bisa membantu perekonomian orang tua dan membawa perubahan di pulau. Minimal dari pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan,” ucap Husni.

Husni juga menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa kepulauan harus menjadi bukti nyata untuk mengubah stigma. “Kita harus menunjukkan bahwa kuliah itu penting dan bisa membawa dampak. Jangan takut melangkah, karena tidak ada orang sukses tanpa proses,” ujarnya.

Di akhir dialog, keduanya sepakat bahwa merantau bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan bagian dari perjuangan memperbaiki taraf hidup keluarga serta membangun daerah asal agar lebih maju di masa depan.

Rekomendasi Berita