Robert Joppy Kardinal Sosialisasikan Program Beasiswa PIP 2026

  • 12 Mar 2026 18:02 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong – Anggota DPR RI Fraksi Golkar Daerah Pemilihan (Dapil) Papua Barat Daya, Robert Joppy Kardinal, mensosialisasikan program beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2026 kepada para guru dan perwakilan sekolah di Kota Sorong.

Kegiatan sosialisasi tersebut berlangsung di Marina Resto Kota Sorong, Kamis 12 Maret 2026. Program bantuan pendidikan tersebut merupakan aspirasi yang diperjuangkan Robert Joppy Kardinal untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu di Papua Barat Daya.

Dalam sambutannya, Robert Joppy Kardinal diwakili Tenaga Ahli Dapil, Ricky Yafed menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan data kebutuhan dari masing-masing sekolah.

“Kita tidak pilih secara acak. Kita melihat dari data, berapa jumlah siswa di sekolah dan kebutuhan sekolah. Kalau dua atau tiga tahun lalu sudah menerima, mungkin kita tidak sentuh lagi dan kita berikan kepada sekolah yang lain,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kuota bantuan PIP tahun 2026 mencapai sekitar 5.000 siswa yang tersebar mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA dan SMK.

“Untuk Kota Sorong kita taruh sekitar 5.000 penerima yang terbagi dari SD, SMP, SMA dan SMK,” katanya.

Menurut Ricky, pembagian kuota bantuan akan dilakukan secara merata kepada sekolah-sekolah agar lebih banyak siswa dapat merasakan manfaat program tersebut.

“Kita akan bagi secara adil ke setiap sekolah. Sekolah yang menerima pasti ada, bahkan ada yang bisa mendapat seratus siswa lebih,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam proses penyaluran bantuan PIP, terutama terkait validitas data siswa yang dimasukkan dalam sistem.

Ricky menjelaskan, beberapa data siswa kerap tidak terbaca dalam sistem karena ketidaksesuaian data administrasi seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) maupun data orang tua.

“Permasalahan tim kami ketika di sekolah itu soal data anak yang tidak valid di sistem. Biasanya terkait NIK atau data orang tua sehingga tidak bisa terbaca,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya kini menggunakan metode pendataan yang lebih praktis melalui sistem unggah data secara langsung sehingga bisa segera diketahui apakah data siswa diterima atau ditolak oleh sistem.

“Nanti tim kami akan membantu melakukan upload data. Kalau datanya tidak valid, sistem langsung membaca sehingga kita tidak perlu melakukan rekayasa apa pun,” katanya.

Ia juga meminta peran aktif pihak sekolah, khususnya operator sekolah dan para guru, untuk membantu proses pendataan siswa agar kuota bantuan yang tersedia tidak terbuang sia-sia.

“Kadang kendalanya operator sekolah tidak memahami proses ini. Ketika diberi batas waktu, datanya belum masuk sehingga kuota yang ada bisa hangus,” jelasnya.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, tim dari Robert Joppy Kardinal juga memberikan penjelasan teknis kepada para guru terkait proses pengisian data siswa yang akan diusulkan sebagai penerima PIP.

Data yang diminta di antaranya nama lengkap siswa, NISN, NPSN sekolah, NIK siswa, nama ibu kandung serta nomor telepon yang dapat dihubungi.

“Datanya tidak banyak, hanya nama lengkap siswa, NISN, NPSN, NIK, nama ibu dan nomor HP. Itu saja,” katanya.

Melalui program ini, diharapkan semakin banyak siswa di Papua Barat Daya yang terbantu dalam memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita