Perempuan Punya Hak dan Kesempatan Jadi Pemimpin Masa Depan
- 13 Mar 2026 06:21 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Perempuan saat ini semakin menunjukkan perannya di berbagai bidang, termasuk dalam dunia kepemimpinan. Tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, perempuan juga mulai tampil sebagai penggerak yang membawa ide, gagasan, dan arah baru dalam masyarakat. Hal ini juga menjadi topik pembahasan dalam program Obrolan Spada yang menghadirkan Ni Kadek Abigail Emilia Putri, Anggota KNPI Buleleng, belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, Abigail menekankan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar soal posisi atau jabatan, tetapi lebih kepada keberanian untuk mengenali potensi diri dan berani mengambil peran di ruang publik.
Menurut Abigail, pembahasan mengenai perempuan sebagai pemimpin masa depan penting karena perempuan memiliki nilai dan potensi yang sama untuk berkembang. Ia menilai bahwa kepemimpinan tidak selalu harus dimulai dari memimpin orang lain, tetapi juga dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. “Perempuan sebagai pemimpin masa depan itu bukan cuma cita-cita atau angan-angan. Kita sebagai perempuan punya value untuk berdaya dan punya kesempatan untuk menjadi sesuatu yang besar,” ujar Abigail saat mengisi Obrolan Spada. Ia juga menambahkan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk bercita-cita setinggi mungkin sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimiliki.
Meski peluang semakin terbuka, Abigail mengakui masih ada tantangan yang sering dihadapi perempuan ketika ingin tampil sebagai pemimpin. Salah satunya adalah stereotip yang masih melekat di masyarakat. Ia bahkan mengaku pernah merasakan hal tersebut ketika mencalonkan diri sebagai ketua organisasi di kampus. Keraguan dari orang lain, menurutnya, seringkali menjadi tantangan tersendiri yang bisa memengaruhi rasa percaya diri. Namun, Abigail percaya bahwa keberanian untuk mengambil keputusan adalah langkah penting untuk melawan keraguan tersebut. “Ketika kita berani memutuskan, rasanya stereotype itu bisa jadi angin lalu saja,” katanya.
Lebih lanjut, Abigail menilai perempuan perlu terus belajar dan mengembangkan diri agar siap menjadi pemimpin di masa depan. Proses tersebut tidak selalu harus melalui jalur formal, tetapi juga bisa melalui pengalaman, membaca, hingga belajar dari lingkungan sekitar. Ia juga mengingatkan bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu berada di posisi paling atas, tetapi mampu memahami orang lain dan membawa perubahan positif. Dengan semakin banyaknya perempuan yang berani tampil dan mengambil peran, Abigail berharap ruang kepemimpinan di masa depan akan semakin terbuka dan inklusif bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk berkembang.