Hari Ketujuh, Operasi SAR Banjir Bandang Desa Banjar Resmi Ditutup

  • 12 Mar 2026 20:56 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban bencana banjir bandang di Dusun Ambengan, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng resmi ditutup pada Kamis 12 Maret 2026. Penutupan dilakukan setelah tim SAR gabungan melaksanakan proses pencarian selama tujuh hari sesuai prosedur operasi standar. Dari empat korban yang dilaporkan hilang, tiga orang berhasil ditemukan, sementara satu korban lainnya hingga hari ketujuh belum berhasil ditemukan.

Ketiga korban yang telah ditemukan masing-masing yakni Dewa Ketutu Adi Suarjaya (55), Komang Suci (44), dan Kadek Wahyu (12). Sementara satu korban lainnya, Putu Wini Lestari (17), masih dinyatakan hilang setelah proses pencarian intensif dilakukan oleh tim gabungan. Meski operasi SAR resmi dihentikan, koordinasi dan pemantauan tetap dilakukan apabila muncul informasi baru terkait keberadaan korban.

Koordinator Pos SAR Buleleng, Kadek Donny Indrawan, menjelaskan pencarian telah dilakukan secara maksimal sejak malam pertama kejadian hingga hari ketujuh. Tim SAR gabungan melakukan penyisiran di berbagai titik yang dicurigai, termasuk area tumpukan material, aliran sungai hingga pesisir pantai. Selain itu, pencarian juga melibatkan alat berat untuk membuka timbunan material yang diduga menutup lokasi korban.

“Selama tujuh hari pencarian, kami bersama tim gabungan telah melakukan berbagai upaya maksimal mulai dari penyisiran darat, sungai hingga pesisir pantai dengan dukungan alat berat. Namun hingga hari ketujuh, satu korban masih belum berhasil ditemukan sehingga sesuai SOP operasi SAR dinyatakan ditutup, namun pemantauan dan koordinasi tetap kami lakukan apabila ada tanda-tanda baru,” ujar Kadek Donny Indrawan.

Ia menambahkan proses pencarian menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Selain kondisi cuaca yang kurang mendukung, tim juga harus menghadapi tumpukan material dan sampah yang terbawa arus banjir bandang. Meski demikian, seluruh unsur tim SAR gabungan tetap berupaya maksimal melakukan pencarian hingga hari terakhir operasi.

Sementara itu, dari sisi penanganan pascabencana, Pemerintah Kabupaten Buleleng mulai melakukan langkah pemulihan di sejumlah wilayah terdampak. Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Perkim Kabupaten Buleleng bersama pemerintah pusat dan provinsi telah melakukan koordinasi untuk percepatan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat luapan sungai.

Perwakilan Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Perkim Buleleng, Putu Yoga Perdana, mengatakan kerusakan paling parah terjadi di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Mendaum dan DAS Tampakan. Pemerintah bersama Balai Wilayah Sungai Bali-Penida kini melakukan survei serta pembersihan material sebelum dilanjutkan dengan perbaikan infrastruktur yang rusak.

“Kerusakan paling besar terjadi di wilayah DAS Mendaum dan DAS Tampakan, sehingga saat ini kami bersama Balai Wilayah Sungai sedang melakukan survei dan pembersihan material menggunakan alat berat sebelum dilanjutkan dengan perbaikan tebing sungai serta infrastruktur yang terdampak,” jelas Putu Yoga Perdana.

Camat Banjar, Putu Widiawan, menyebutkan bencana banjir bandang tersebut berdampak pada sedikitnya 11 desa di wilayah Kecamatan Banjar. Desa Banjar menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah, sementara beberapa desa lain mengalami gangguan terutama pada jaringan air bersih dan infrastruktur pendukung.

“Sebanyak 11 desa di Kecamatan Banjar terdampak bencana ini, dengan jumlah warga terdampak lebih dari dua ribu kepala keluarga. Untuk proses pencarian korban memang sudah ditutup sesuai SOP tujuh hari, namun penanganan dampak bencana tetap kami lanjutkan bersama pemerintah daerah, provinsi, dan berbagai pihak terkait,” kata Putu Widiawan.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini fokus pada tahap pemulihan pascabencana. Selain perbaikan infrastruktur sungai dan jaringan irigasi, upaya pembersihan material banjir juga terus dilakukan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Pemerintah juga mengajak masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana, terutama saat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi.

Rekomendasi Berita