Hari Supersemar, Begini Latar Belakangnya
- 11 Mar 2026 10:04 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Setiap tahun pada tanggal 11 Maret diperingati sebagai hari Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Surat itu ditetapkan tanggal 11 Maret 1966.
Merujuk Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tangerang, peristiwa terjadi usai kondisi politik Indonesia tak stabil pasca peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965. Situasi negara kala itu kian memburuk, bahkan inflasi disebut mencapai lebih dari 600 persen.
Dalam kondisi itu, Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto meminta surat perintah kepada Presiden Soekarno untuk mengatasi konflik yang terjadi. Permintaan itu lantas disampaikan melalui tiga jenderal Angkatan Darat.
Ketiga jenderal tersebut yakni Brigjen Amir Machmud, Brigjen M. Yusuf, dan Mayjen Basuki Rachmat. Mereka menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor pada 11 Maret 1966 dengan membawa surat yang kemudian ditandatangani presiden.
Surat yang dikenal sebagai Supersemar itu memberikan wewenang kepada Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu. Tujuannya untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk dan memulihkan stabilitas negara.
Peristiwa Supersemar lantas menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan politik Indonesia. Peristiwa ini juga dikenal sebagai awal perubahan kekuasaan yang mengarah pada lahirnya pemerintahan Orde Baru.
Sejak itu, 11 Maret dikenang sebagai Hari Supersemar. Peringatan ini menjadi bagian dari sejarah bangsa yang menandai peristiwa penting dalam perjalanan politik Indonesia.