Puluhan Tahun Terpisah Sungai, Dua Desa di Grobogan Terhubung Jembatan Gantung
- 12 Mar 2026 18:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Penantian panjang warga Desa Ngombak dan Desa Kentengsari, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, akhirnya terjawab. Sebuah jembatan gantung kini berdiri membentang di atas Sungai Tuntang yang selama ini memisahkan kehidupan dua desa tersebut.
Suasana di tepian Sungai Tuntang, Desa Ngombak, tampak berbeda ketika warga dari dua desa berkumpul menyaksikan jembatan yang telah lama mereka nantikan. Jembatan Garuda sepanjang sekitar 80 meter itu telah diresmikan oleh Kodam IV/Diponergoro, menjadi penghubung baru bagi mobilitas masyarakat.
Bagi warga setempat, jembatan tersebut bukan sekadar sarana penghubung. Kehadirannya menjadi simbol berakhirnya penantian puluhan tahun yang selama ini membatasi aktivitas masyarakat di kedua desa.
Sekretaris Desa Kentengsari, Wartoyo, mengaku haru melihat jembatan tersebut akhirnya terbangun. Menurutnya, selama ini Sungai Tuntang menjadi penghalang utama bagi warga untuk beraktivitas.
“Terima kasih telah dibangun jembatan ini. Warga sudah berpuluh-puluh tahun menunggu adanya jembatan ini,” kata Wartoyo, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia mengenang bagaimana dahulu warga harus menggunakan rakit sederhana yang ditarik manual menggunakan tali untuk menyeberangi sungai. Namun, cara tersebut tidak selalu bisa digunakan, terutama ketika arus sungai sedang deras.
“Sebelumnya warga pernah memakai rakit yang ditarik manual untuk menyeberangi. Apabila arus sungai deras, rakit tidak bisa dipakai. Sekarang dengan adanya jembatan ini akses warga jadi jauh lebih mudah,” ujarnya.
Cerita serupa disampaikan Daryanto, warga Kentengsari yang telah lama tinggal di kawasan tersebut. Ia menuturkan sebelum jembatan dibangun, wilayah itu seperti terisolasi oleh Sungai Tuntang.
“Sudah berpuluh-puluh tahun daerah ini seperti terisolir. Dulu ada perahu penyeberangan manual, tapi sudah hanyut terbawa arus,” ungkapnya.
Selama ini warga yang hendak menuju Desa Ngombak atau sebaliknya harus memutar jauh melalui Kecamatan Kedungjati. Padahal jarak kedua desa sebenarnya cukup dekat jika dapat dilalui secara langsung.
Daryanto menjelaskan, perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi cukup jauh. Jika memutar melalui Kedungjati, jarak tempuh bisa mencapai sekitar 12 kilometer.
“Kalau lewat Kedungjati jaraknya bisa sampai sekitar 12 kilometer. Perjalanan bisa 20 menit lebih hanya untuk sampai ke Ngombak. Kini bisa ditempuh hanya sekitar 5 menit,” katanya.
Keberadaan jembatan juga membawa manfaat bagi anak-anak sekolah di wilayah tersebut. Kini mereka dapat menempuh perjalanan yang lebih singkat tanpa harus memutar jauh.
“Sekarang anak-anak sekolah bisa lewat sini. Tidak perlu mutar jauh lagi ke Kedungjati,” ucapnya. (AHY)