BPS Catat Lonjakan Tajam Cabai Rawit Picu Tekanan Inflasi Daerah
- 23 Feb 2026 10:51 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Kenaikan harga cabai rawit menjadi sorotan utama dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026. Komoditas pangan tersebut tercatat mengalami lonjakan signifikan di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Februari dan dinilai memberi tekanan cukup besar terhadap stabilitas harga pangan nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan peningkatan harga cabai rawit terjadi secara luas dan berdampak langsung terhadap indeks perkembangan harga sebagai indikator pembentuk inflasi. Ia menyebut tren kenaikan tidak hanya terjadi di wilayah tertentu, tetapi hampir merata di berbagai provinsi.
“Ateng menjelaskan cabai rawit mengalami peningkatan yang tergolong cukup tinggi sekali dan terjadi di lebih dari setengah wilayah Indonesia,” ujarnya pada Senin 23 Februari 2026. Bahkan, kenaikan harga tercatat mendekati 20 persen hanya dalam satu minggu masa pencatatan pada Februari.
BPS mencatat sebanyak 214 kabupaten dan kota mengalami kenaikan harga cabai rawit. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat pada 210 daerah, menunjukkan tren kenaikan yang terus meluas dari minggu ke minggu.
Selain kenaikan rata-rata nasional, terjadi pula kesenjangan harga yang cukup tajam antarwilayah. Harga terendah tercatat sekitar Rp23 ribu per kilogram, sementara harga tertinggi mencapai Rp200 ribu per kilogram di sejumlah wilayah Papua, yang menunjukkan masih adanya persoalan distribusi dan akses pasokan.
Lonjakan harga ini disebut dipengaruhi faktor musim hujan yang berdampak pada produksi, terutama pada sentra pertanian cabai. Curah hujan tinggi menyebabkan gangguan panen dan distribusi logistik, sehingga pasokan di beberapa daerah mengalami keterlambatan.
Pemerintah pusat melalui rapat koordinasi tersebut meminta kementerian teknis segera merumuskan langkah konkret untuk menjaga stabilitas pasokan. Upaya penguatan distribusi, pengawasan perdagangan, serta intervensi pasar dinilai penting agar kenaikan harga tidak berlangsung berkepanjangan.
Melalui koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah, pengendalian komoditas cabai rawit kini menjadi prioritas utama dalam strategi pengendalian inflasi nasional. Langkah cepat dan terukur dinilai sangat diperlukan karena komoditas ini memiliki kontribusi besar terhadap inflasi pangan dan daya beli masyarakat.