Inovasi Jepang, Plastik Supramolekul yang Larut Total di Air Laut

  • 02 Mar 2026 09:24 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Tim peneliti dari RIKEN Center for Emergent Matter Science (CEMS) dan University of Tokyo, Jepang, berhasil mengembangkan inovasi plastik supramolekul ramah lingkungan. Material baru ini dirancang secara khusus agar dapat terurai dengan sangat cepat saat bersentuhan dengan air laut tanpa meninggalkan residu berbahaya.

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Takuzo Aida ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science pada Juli 2024. Inovasi tersebut memanfaatkan kombinasi garam empedu (bile salt) dan natrium poliakrilat, yang merupakan bahan non-toksik dan aman bagi kesehatan maupun lingkungan.

Berdasarkan laporan resmi dari RIKEN tahun 2024, struktur molekul plastik ini akan terurai dalam hitungan jam hingga beberapa hari tergantung ketebalannya. Kecepatan degradasi ini melampaui kemampuan plastik biodegradable konvensional berbasis PLA yang masih membutuhkan fasilitas pengomposan industri bersuhu tinggi.

Dalam keterangannya kepada media The Guardian, Profesor Takuzo Aida menjelaskan bahwa material ini kembali ke bentuk molekul aslinya atau monomer. Hal tersebut memungkinkan plastik larut secara total dalam air tanpa pecah menjadi fragmen mikroplastik yang selama ini mengancam ekosistem laut.

Meskipun memiliki sifat cepat larut, dokumen riset di jurnal Science mencatat daya tahan mekanik material ini cukup tangguh. Kekuatan tarik plastik supramolekul tersebut dilaporkan sebanding dengan plastik konvensional, sehingga sangat layak digunakan untuk kebutuhan fungsional sehari-hari sebelum akhirnya dibuang.

Inovasi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui Japan Science and Technology Agency (JST). Langkah ini sejalan dengan target Kementerian Lingkungan Hidup Jepang dalam strategi sirkulasi sumber daya untuk mengurangi sampah plastik di lautan secara drastis pada tahun 2030.

Laporan dari University of Tokyo mengakui adanya tantangan teknis berupa sensitivitas material yang tinggi terhadap kelembapan air tawar. Untuk mengatasinya, per akhir 2024 para peneliti tengah mengembangkan lapisan pelapis organik guna menunda proses pelarutan sebelum material mencapai lautan.

Analisis ekonomi yang diterbitkan oleh Nikkei Asia menyebutkan bahwa biaya produksi massal saat ini masih lebih tinggi dibandingkan plastik berbasis minyak bumi. Namun, pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan skema subsidi industri guna mendukung target net-zero sampah plastik di masa depan.

Komersialisasi massal dari plastik supramolekul ini diperkirakan akan terwujud dalam rentang waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Penemuan ini diharapkan menjadi solusi permanen dalam mengatasi krisis polusi plastik global yang kian mendesak untuk ditangani segera.

Rekomendasi Berita