Merajut Jadi Strategi Kesehatan Mental Atlet Milano Cortina 2026

  • 23 Feb 2026 08:24 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Milano - Fenomena merajut kini menjadi tren unik sekaligus strategi menjaga kesehatan mental bagi para atlet dunia yang berlaga di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026. Aktivitas tangan ini terbukti ampuh membantu para peserta kompetisi mengelola tekanan tinggi selama ajang olahraga internasional berlangsung.

Alinea pertama ini menyoroti bagaimana merajut bertransformasi dari sekadar hobi menjadi alat bantu konsentrasi yang signifikan. Tom Daley, peraih medali emas loncat indah asal Britania Raya, menjadi sosok sentral yang mempromosikan gerakan ini di Italia. Berdasarkan pernyataan resmi NBC Sports (2026), Daley hadir sebagai bagian dari NBC’s Olympic Creator Collective untuk menginspirasi para atlet.

Dalam aksi nyatanya, Tom Daley secara resmi merancang serta memproduksi syal dan topi rajut khusus yang dikenakan Tim Britania Raya. Laporan dari British Olympic Association (Team GB) menyebutkan bahwa Daley menggunakan platformnya untuk menunjukkan bahwa merajut adalah metode efektif untuk menjaga fokus di lingkungan dengan tingkat stres yang ekstrem.

Aspek psikologis dari fenomena ini diperkuat oleh penjelasan Dr. Anne-Marie Sullivan, seorang pakar psikologi olahraga ternama. Dalam laporannya di Journal of Applied Sport Psychology (Update 2025/2026), Sullivan mengategorikan merajut sebagai 'meditasi aktif' yang mampu menurunkan kadar kortisol secara signifikan. Aktivitas repetitif ini membantu atlet mengalihkan kecemasan kompetitif menjadi proses motorik yang menenangkan.

Implementasi teknik kesehatan mental ini terlihat nyata pada atlet ski alpen asal Amerika Serikat, Breezy Johnson, dan Ben Ogden. Menurut riset kesehatan mental atlet tahun 2026, mereka menggunakan rajutan untuk menjaga stabilitas emosi sebelum bertanding. Hal ini membuktikan bahwa kesehatan mental menjadi prioritas utama bagi para Olympian di tengah jadwal pertandingan yang padat.

Selain individu, Tim Biathlon Amerika Serikat juga menjadikan merajut sebagai aktivitas komunal yang dilakukan bersama di Olympic Village. Atlet Margie Freed dan Deedra Irwin mengonfirmasi dalam wawancara dengan Associated Press (Februari 2026) bahwa mereka membentuk kelompok merajut. Langkah ini diambil untuk mengisi waktu luang di sela latihan ekstrem di kawasan Antholz.

Tujuan utama dari aktivitas berkelompok ini adalah untuk membangun kohesi tim yang lebih kuat dan mengurangi rasa kesepian. Melalui interaksi saat merajut, para atlet merasa lebih terhubung satu sama lain sehingga mampu mengurangi dampak isolasi selama masa kompetisi. Solidaritas ini menjadi faktor penting dalam mendukung performa mereka di lapangan salju.

Fenomena yang viral ini ternyata memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan pada industri kerajinan tangan global secara luas. Berdasarkan data statistik dari International Craft Industry Association (ICIA) 2026, terjadi lonjakan permintaan perlengkapan rajut sebesar 15 persen di seluruh dunia. Kenaikan ini terjadi hanya dalam dua minggu pertama penyelenggaraan Olimpiade Milano Cortina.

Lonjakan minat masyarakat dunia ini didorong oleh konten 'merajut di tribun' yang sering dibagikan oleh para atlet melalui media sosial. Budaya baru ini menunjukkan bahwa gaya hidup sehat atlet tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga mental. Merajut kini dianggap sebagai simbol ketenangan di tengah hiruk-pikuk kompetisi olahraga paling bergengsi di dunia.

Rekomendasi Berita