Tantangan Teknologi Penyandang Disabilitas Wilayah Terpencil

  • 20 Apr 2025 14:51 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang - Disabilitas adalah kondisi keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik seseorang dalam jangka waktu yang lama. Keterbatasan ini dapat menghambat partisipasi penuh dan efektif penyandang disabilitas dalam masyarakat.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Program Manager Forum Bangun Aceh (BFA), Asnawi Nurdin, S.Pd.,M.Ed., “Tidak semua orang yang memiliki keterbatasan juga mengalami hambatan. Misalnya ada orang yang tidak punya daun telinga, tidak punya rambut, itu dinamakan keterbatasan tapi tidak punya hambatan. Jadi yang dinamakan disabilitas harus memiliki keduanya, yaitu keterbatasan dan hambatan,” ujarnya dalam Dialog Disabilitas dengan topik Teknologi: Sarana Peningkatan Kualitas Hidup Disabilitas di RRI Pro 1 Banda Aceh pada Sabtu (19/4/2025).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hambatan bagi disabilitas dapat dikurangi dengan intervensi internal dan eksternal. Dari internal, berarti ia harus berusaha keras untuk melatih kemampuan dirinya. Dan kemudian harus ada intervensi ekternal berupa teknologi untuk memudahkan penyandang disabilitas dalam menjalani hidup.

“Spektrum teknologi itu luas, mulai dari bangku disabilitas, tongkat kayu biasa, sampai penggunaan software AI, tergantung dari spesifik kebutuhan individu dan jenis disabilitas. Secara umum teknologi itu akan mengurangi hambatan sehingga ia dapat menikmati hak-haknya dan berpartisipasi dalam masyarakat. Jadi sangat besar peran teknologi bagi penyandang disabilitas,” lanjutnya.

Namun, meskipun peran teknologi sangat signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas, Asnawi menyebutkan masih terdapat tantangan tersendiri bagi penyandang disabilitas dalam mengakses teknologi, terutama yang berada di wilayah terpencil. “Mengapa di kampung-kampung orang-orang disabilitas tidak dapat bekerja, tidak dapat bersekolah dan sebagainya, itu karena lingkungan tidak mendukung. Hal ini terjadi karena desa kita masih jauh dari kata akses, karena memang proses keterpaparan informasi agak telat,” ujarnya

Kemudian faktor keluarga. Banyak anak-anak disabilitas dibentuk dalam keluarga yang tidak mendukung dirinya untuk berdaya, terutama jika sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai. Sehingga penyandang disabilitas ini tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri nantinya.

Perlunya edukasi kepada penyandang disabilitas, keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman potensi penyandang disabilitas, menghilangkan stigma, diskriminasi, serta mendorong lingkungan yang aksesibel secara teknologi.

Rekomendasi Berita