Inmemorium Jenderal Try Sutrisno
- 03 Mar 2026 13:29 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Innalillahi Waina Ilaihirajiun ... Itulah kalimat utama yang terucap ketika membaca pesan singkat di telepon genggamku. Pesan ini dikirim Bapak Ir H Edi Rusdi Kamtono MM MT Walikota Pontianak kepadaku. Dan inilah kabar duka yang kuterima di pagi Senin, 2 Maret kemarin. Kabar duka ini segera memenuhi ruang batinku tertuju pada orang baik yang dikabarkan telah tiada lagi hayatnya di dunia fana ini.
Pak Try, akrab aku menyapa Beliau. Terkadang juga kupanggil Ayah Try. Tentu bukanlah asing bila menyebut nama ini. Sosok figur yang santun, sederhana dan tentu sekali amat bersahaja. Meski pernah menjadi orang kedua memimpin negara ini di masa orde yang sudah berlalu, Pak Try tetaplah Pak Try yang sebelumnya itu. Adalah Pak Try yang selalu ikhlas, tulus dan tak pernah jauh dari mengingat Tuhannya.
Almarhum wafat di usia 90 tahun. Bapak dan Guru Bangsa yang bersahaja ini, wafat dalam keadaan tenang dan penuh ketulusan untuk berpulang ke rahmatullah. Lelaki kelahiran Surabaya 15 Nopember 90 tahun silam ini, menerima suratan takdir, di hari baik pada bulan yang baik pula, memenuhi kodrat dan iradat Sang Maha Pencipta untuk pulang ke negeri keabadian dengan lapang dan tenang.
Aku mulai mengenal dekat beliau sedari tahun 2000. Saat itu Almarhum sebagai salah seorang anggota Dewan Kehormatan Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Republik Indonesia. Aku ketika itu hadir dalam acara Musyawarah Besar Nasional lembaga yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia itu sebagai anggota dan bahkan anggota termuda.
Disebabkan sebagai anggota termuda di antara para sesepuh bangsa dan para eksponen Pejuang Angkatan 45 itu, Almarhum Pak Try tertuju padaku. Apalagi untuk beberapa kali kesempatan rapat paripurna dalam acara itu, aku memimpin persidangan mendampingi anggota tertua.
Sedari Nopember 2000 hingga akhir hayat Beliau, hubungan kami sangat baik. Tak ubahnya orangtua dengan anaknya. Dan itu kurasakan sekali. Sampai juga di tahun 2014, Pak Try berkunjung ke Pontianak dan berkenan mampir ke rumah kami. Tak kurang dua jam sambil makan siang, Beliau dan rombongan, antara lain Jenderal TNI Purnawirawan Dr H Ramli Hasan Basri yang kusapa akrab dengan sapaan Ayah RHB, bercengkerama dengan penuh canda tawa.
Sebuah kenangan tak terlupakan, pada malam kunjungan Beliau itu, kami pada malamnya menikmati buah durian di Pontianak. Ternyata Beliau penyuka durian, bahkan siangnya di meja Beliau sempat bercanda menanyakan "tempoyak" sajian pendamping lauk olahan dari buah durian. Dan lidah Beliau tak asing dengan masakan ala Melayu.
Pak Try, Ayah RHB dan rombongan juga kuajak berziarah ke Makam Joang Mandor. Kulihat Beliau khusyuk memanjatkan doa saat menziarahi pusara para syuhada di Mandor. Dan Beliau sangat berharap suatu ketika negara hadir untuk menata apik Makam Joang Mandor ini.

Untuk sekian banyak silaturahmi kami ke kediaman Beliau di kawasan Menteng Jakarta, aku terkesan dengan kesederhanaan Beliau dan keluarga. Bayangkan, Beliau sendiri, anak dan menantu Beliau yang juga menyandang pangkat Jenderal di kemiliteran, bahkan puncaknya Pak Try mantan Wakil Presiden ke 6 Republik Indonesia, tapi dalam kesehariannya tetap sederhana. Dan kesederhanaan itu pula menjadikan Beliau bersahaja.
Suatu saat aku berkunjung ke Beliau di rumahnya yang sederhana, tak sebagai gedongan atau rumah mentereng untuk uluran pejabat. Ketika itu aku bersama Pak Munir Hd dan Bang Yafandi. Kami bincangkan banyak hal terutama kemaslahatan umat, khususnya di lingkungan Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Dan amal jariyah Almarhum adalah mengingatkan agar nama Mujahidin melekat rapat erat untuk nama masjid raya di Ibukota Kalimantan Barat ini.
Kini Almarhum telah menghadap Maha Pemilik Segalanya. Pak Try, jenderal militer yang tak jauh dari mengingat Tuhan ini, suatu ketika pernah bercanda mengatakan kepadaku, "Dikmas, kami-kami ini sudah melintasi sebuah perjalanan panjang sejarah. Tapi rasanya kami belum sampai juga ke titik akhir yang dituju. Mohon, kalian yang punya kesempatan untuk sebuah perjalanan panjang ini, teruskan niat tulus para pendahulu kita", begitu ungkapnya.
Suatu kesempatan lain, sambil menikmati teh hangat dan banyak sajian kudapan di ruang tamunya yang asri, Pak Try mengatakan, "Bahwa kita manusia sebagai ciptaan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, adalah makhluk yang paling sempurna, yang secara alamiah akan beralih generasi", ungkapnya.
Beliau ketika itu melanjutkan kata-katanya, "Bahwa generasi penerus perjuangan bangsa yang dijiwai oleh semangat, cita-cita, dan pengorbanan para pahlawan bangsa dari masa ke masa, menyadari dengan hati nurani yang paling dalam, untuk terus memberdayakan jiwa, semangat dan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia sebagai nilai kejuangan luhur demi tercapainya cita dan tujuan bangsa ini".
Itulah Pak Try yang hari-hari ini dikenang dan diteladani arti dan makna hidupnya dulu. Bagiku, ada tak sedikit cerita, terdapat tak pendek kenangan, dan bukan suatu ingatan yang berbatas untuk meneladani Beliau.
Selamat jalan Pak Try. Selamat menempuh hidup abadi di negeri keabadian, sembari menikmati amal pahala dan ibadah yang tulus ikhlas diperbuat semasa hayat dikandung badan selama hidup di dunia.
Semoga Allah Ta'ala Tuhan Yang Maha Pengampun dan Pemelihara menerima Pak Try di negeri surga firdaus Nya. Aku tak henti mendoakan seraya juga mengenang Beliau, serupa juga aku membaca ulang tutur cerita dan ungkapan kisah dari bibir Beliau yang termaktub dalam buku biografinya yang telah kutuliskan dulu.
Innalillahi Waina Ilaihirajiun ... Selamat menjalani dan melanjutkan kehidupan abadi di alam kemuliaan. Kukenang selamanya Bapak Jenderal TNI Purnawirawan Haji Try Sutrisno.
Baca juga: Takziah ke Tanah Kusir, Catatan Syafaruddin DaEng Usman