Berawal dari Remaja Masjid, Kisah Mahrani Kepala SILN di Arab Saudi
- 05 Mar 2026 10:19 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Kota Pontianak tidak pernah kehabisan sosok pemuda hebat. Salah satunya Mahrani, M.Pd yang merupakan seorang Kepala Sekolah asal Kota Pontianak yang saat ini ditugaskan di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Jeddah, Arab Saudi.
Sebagai seorang Kepala SILN, tugas yang diemban tidaklah sederhana. Ia harus memastikan anak-anak WNI yang berada di Jeddah dan sekitarnya dapat mengenyam pendidikan layak dan berkualitas, serta memastikan keselamatan dan perlindungan mereka, mengingat sebagian WNI yang berada di Arab Saudi berstatus overstayer bahkan tanpa dokumen keimigrasian.
Kemampuan dalam memanajemen sumberdaya itu bukanlah suatu yang sederhana. Dengan banyaknya guru dan tenega kependidikan, serta kompleksnya masalah yang dihadapi di luar negeri membuat seorang harus memiliki strategi dan inovasi tersendiri sehingga tantangan yang ada justru menjadi peluang sehingga apa yang dicita-citakan tercapai.
Sebagaimana pada tahun 2025 yang lalu, capaian dari sekolah yang Mahrani pimpin tercatat lebih dari 168 medali yang diperoleh siswa mulai dari tingkat kabupaten hingga internasional. Selain itu, 83% lulusan SMA yang ia pimpin diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa penuh.
Untuk mencapai prestasi tersebut, diperlukan pengalaman yang baik dalam mengorganisasi sebuah lembaga. Terlebih lembaga pendidikan yang terintegrasi mulai TK hingga SMA di luar negeri. Namun, uniknya pengalaman yang diperoleh justru berawal dari sebuah masjid. Hal itulah yang tercermin pada sosok Mahrani.
Tidak ada yang menyangka kisah perjalanan hidupnya. Pria yang sejak kelas 1 di Madrasah Aliyah ini telah aktif sebagai anggota Remaja Masjid Raya Mujahidin Kalimantan Barat.
Rutinitas hariannya dilalui layaknya anak remaja seusianya, namun ada hal unik lain yang terdapat pada sosoknya, sore hingga malam dihabiskan di Masjid Raya Mujahidin. Bahkan di Bulan Ramadan, ia pulang ke rumah hanya sebatas mengambil pakaian ganti untuk selanjutnya kembali ke masjid lagi.

Sebagai seorang remaja masjid, Mahrani tidak luluh oleh waktu. Ia mengatakan bahwa hanya ia sendiri yang tersisa dari teman-teman seangkatan bahkan 10 angkatan kebawahnya. Hal itu tidak menyurutkan semangatnya dalam memberikan layanan di Masjid Raya Mujahidin.
“Rata-rata Remaja Mujahidin itu hanya aktif disaat masih sekolah atau kuliah, setelah itu mereka sudah tidak terlibat lagi. Saya belajar banyak hal di Remaja Mujahidin, pencapaian saat ini absabnya juga dari Remaja Mujahidin. Memimpin, berinovasi dan memberikan layanan terbaik tanpa mengharapkan imbalan terbentuk di Remaja Mujahidin,” ucap lelaki yang tetap aktif di remaja mesjid ini meskipun sudah berkeluarga.