Kenali Gejala Awal Paparan Ideologi Ekstrem
- 25 Feb 2026 21:17 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Paparan ideologi ekstrem umumnya berlangsung secara bertahap dan tidak selalu mudah dikenali. Perubahan kecil dalam sikap maupun pola pikir bisa menjadi sinyal awal yang perlu mendapat perhatian dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Anggota Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 Antiteror Polri, Nicolas Saputra, mengatakan proses radikalisasi biasanya diawali dengan perubahan perilaku yang cukup mencolok. “Biasanya terlihat dari perubahan cara berinteraksi. Yang sebelumnya terbuka, mendadak menjadi tertutup dan hanya mau bergaul dengan kelompok tertentu. Ada juga yang mulai menunjukkan sikap mudah menyalahkan pihak lain,” ungkapnya dalam acara Dialog Moderasi Beragama RRI, Selasa 24 Februari 2026.
Ia mengatakan, bahwa tanda lain yang patut diwaspadai adalah pola pikir yang semakin sempit dan kaku. Individu yang mulai terpapar cenderung melihat suatu persoalan secara hitam-putih, serta menolak pandangan berbeda tanpa ruang diskusi.
“Kalau diskusi selalu berujung pada klaim bahwa hanya kelompoknya yang paling benar, itu sudah menjadi lampu kuning. Prosesnya tidak instan, tapi perlahan membentuk keyakinan yang eksklusif,” katanya.
Di era digital, gejala awal juga dapat terlihat dari aktivitas media sosial. Seseorang mungkin mulai aktif membagikan konten bernarasi kebencian, mengikuti kanal yang menyebarkan propaganda intoleran, atau terlibat dalam forum tertutup yang membahas ideologi keras.
Nicolas menambahkan, jaringan ekstrem kerap memanfaatkan isu sosial, keagamaan, maupun ketidakadilan sebagai pintu masuk. “Mereka tidak langsung mengajarkan kekerasan. Yang dibangun lebih dulu adalah rasa empati yang diarahkan, lalu ditanamkan pemahaman yang menyimpang sedikit demi sedikit,” jelasnya.
Ia menegaskan, pendekatan pencegahan harus dilakukan secara persuasif. Peran keluarga, guru, dan masyarakat sangat penting untuk membuka ruang dialog dan memperkuat pemahaman moderasi.
“Jangan langsung menghakimi. Ajak bicara, dengarkan, lalu beri sudut pandang yang lebih luas. Pencegahan dini jauh lebih efektif daripada penindakan ketika seseorang sudah terlibat jauh,” katanya.