BMKG: Puncak Kemarau di Nunukan Berlangsung Februari
- 12 Mar 2026 10:38 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - BMKG merilis prakiraan puncak musim kemarau yang melanda wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan pada awal tahun ini. Informasi tersebut menjadi peringatan dini bagi masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi kekeringan.
Anomali cuaca menunjukkan penurunan drastis intensitas hujan di wilayah utara Kalimantan sejak memasuki awal tahun 2026. Penurunan curah hujan ini terpantau secara konsisten selama beberapa periode dasarian berturut-turut di stasiun meteorologi. Hal ini disampaikan Kepala BMKG Kelas II Nunukan, William Sinaga.
"Oh iya, itulah seperti yang disampaikan tadi, memang awal musim kemarau kita untuk Pulau Nunukan itu dimulai Februari Dasarian II. Pulau Sebatik juga Februari Dasarian II. Puncaknya itu di Februari juga, karena tiga Dasarian berturut-turut itu jumlah curah hujannya sedikit. Jadi itulah puncaknya," katanya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait ketersediaan air baku pada embung-embung utama di wilayah pulau. Sektor pertanian juga mulai merasakan dampak dari berkurangnya pasokan air hujan alami untuk lahan produktif.
Pihak BMKG terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan awan dan kelembapan udara di sekitar wilayah perbatasan. Langkah ini bertujuan memberikan data akurat guna mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan yang rentan terjadi.
"Sedangkan sampai sekarang ini kan Maret, nah nanti diperkirakan panjangnya itu hingga April Dasarian III dan Dasarian II. Untuk Pulau Sebatik itu nanti sampai Dasarian II, sedangkan Nunukan sampai Dasarian III," ujarnya.
Masyarakat diimbau untuk menampung air bersih selama sisa masa kemarau yang diprediksi masih akan berlanjut. Penggunaan api di area terbuka harus dihindari sepenuhnya demi mencegah bencana kabut asap yang merugikan.