Pemerintah: Stok BBM dan LPG Aman jelang Lebaran 2026

  • 14 Mar 2026 23:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Stok bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Saat ini, cadangan berbagai jenis BBM berada di atas batas minimum sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran.

Demikian disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai melapor Presiden Prabowo Subianto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu 14 Maret 2026.

“Jadi saya pikir untuk urusan bensin, insya Allah clear Bapak (Presiden). Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG, insya Allah aman Bapak,” kata Bahlil.

Pernyataan tersebut, kata Bahlil, disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Jakarta pada Jumat (13/3). Dalam kesempatan itu, Bahlil memaparkan kondisi cadangan beberapa jenis BBM nasional.

Untuk Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90, cadangan tercatat mencapai sekitar 24,39 hari. Sementara cadangan Jenis BBM Umum (JBU) RON 92 berada di kisaran 28 hari dan RON 98 sekitar 31 hari.

Adapun cadangan solar subsidi mencapai sekitar 16,41 hari. Untuk solar dengan cetane number (CN) 53, stok tercatat sekitar 46 hari. Sedangkan bahan bakar pesawat atau avtur mencapai sekitar 38 hari.

Selain BBM, pemerintah juga memastikan pasokan LPG nasional tetap terjaga meskipun rantai distribusi global tengah mengalami dinamika.

Menurut Bahlil, sekitar 70–72 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya dari sejumlah negara lainnya.

Untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah, pemerintah menyiapkan langkah diversifikasi sumber impor. Termasuk membuka peluang tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan negara lain seperti Australia.

“Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia untuk LPG,” katanya. Bahlil menambahkan, pasokan solar nasional relatif lebih stabil karena seluruh produksinya berasal dari dalam negeri.

Kondisi tersebut juga diperkuat dengan mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 yang meningkatkan kapasitas produksi kilang nasional. Proyek tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bensin hingga sekitar 5,5 juta ton per tahun serta menekan impor solar sekitar 3,5 juta ton per tahun.

Ke depan, pemerintah juga terus mendorong pembangunan kilang minyak. Guna meningkatkan produksi BBM dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

“Kalau lifting kita tidak mencapai 1,6 juta barel minyak per hari, selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan lifting itulah yang kita impor. Jadi ke depan itu tinggal impor crude saja,” ujar Bahlil.

Rekomendasi Berita