Penduduk Indonesia 2025 Tembus 288 Juta, Kemendagri: 69% Usia Produktif

  • 12 Mar 2026 22:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Dalam Negeri merilis data terbaru yang menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada 2025 mencapai 288.315.089 jiwa. Dari jumlah tersebut, lebih dari 69 persen penduduk berada pada usia produktif.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Teguh Setyabudi menyampaikan bahwa data tersebut diperoleh melalui proses penunggalan data biometrik. "Jumlah penduduk Indonesia per Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II 2025 berjumlah 288.315.089 jiwa," katanya kepada wartawan usai menghadiri acara Rilis Data Kependudukan Bersih (DKB) Semester II, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis malam, 12 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut terdapat sekitar 211 juta penduduk yang wajib memiliki KTP elektronik (e-KTP). Dari angka itu, sekitar 206 juta jiwa atau 97,47 persen telah melakukan perekaman biometrik.

Data kependudukan yang dikelola pemerintah bersifat by name by address dan memuat lebih dari 30 elemen data kependudukan. Seluruh data, kata dia, dikelola melalui Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang terpusat.

"Hampir seluruh penduduk yang wajib KTP-el sudah melakukan perekaman. Memang masih ada sebagian yang belum, terutama di wilayah terpencil atau daerah yang akses pelayanannya masih terbatas," ucapnya.

Menurutnya, kelengkapan data tersebut sangat penting untuk mendukung berbagai kebijakan pemerintah. Mulai dari pelayanan publik, perencanaan pembangunan, hingga pemetaan kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, menekankan pentingnya memperkuat administrasi kependudukan berbasis digital. Hal ini berguna mendukung pelayanan publik yang inklusif sekaligus mendorong transformasi digital nasional.

Ia menegaskan bahwa amanah tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, semangat kolaborasi. Serta dedikasi tinggi agar layanan administrasi kependudukan semakin efektif dan menjangkau seluruh masyarakat.

"Perlunya kebersamaan dan perlunya penguatan, di mana tantangan-tantangan yang kita hadapi itu berbeda dengan membangun suatu alat. Di mana kita sekaligus membangun dan sekaligus juga mempertahankan daripada kinerja alat yang sudah ada," ujarnya.

Rekomendasi Berita