Kemenpar Perkuat Pasar Asia dan Oceania Jaga Stabilitas Pariwisata
- 12 Mar 2026 18:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyatakan pemerintah memperkuat pasar wisata dari kawasan Asia dan Oceania. Ini sebagai strategi menjaga stabilitas sektor pariwisata Indonesia di tengah meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan arus kunjungan wisatawan mancanegara tetap terjaga meskipun terjadi gangguan pada jalur penerbangan yang terhubung dengan kawasan Timur Tengah. Ni Luh Puspa mengatakan kebijakan penguatan pasar wisata di Asia dan Oceania telah menjadi arahan langsung dari Menteri Pariwisata.
“Bu Menteri Pariwisata sudah mengarahkan agar mulai melakukan pergeseran pasar dengan menguatkan yang di Asia dan Oceania. Karena tidak terdampak penerbangan dari Timur Tengah,” kata Ni Luh Puspa, Kamis, 12 Maret 2026.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki konektivitas penerbangan yang cukup kuat dari sejumlah negara yang selama ini menjadi simpul utama jalur udara menuju Tanah Air. Di antaranya Malaysia yang menyumbang sekitar 27 persen jalur konektivitas penerbangan menuju Indonesia serta Singapura sebesar 18 persen.
Sementara itu konektivitas dari kawasan Timur Tengah tercatat berada pada kisaran 11 persen dari total jalur penerbangan internasional menuju Indonesia. Menurutnya, angka tersebut menjadi peluang bagi pemerintah untuk melakukan substitusi pasar dengan memperkuat promosi dan penetrasi wisata dari kawasan lain.
Ni Luh Puspa menyebut kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2025 masih didominasi oleh negara-negara di kawasan Asia dan Australia. Selain itu pertumbuhan kunjungan juga terlihat cukup signifikan dari negara seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, hingga Taiwan.
Di sisi lain, Kementerian Pariwisata juga menyiapkan strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) sektor pariwisata. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan pemahaman terhadap pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pengembangan destinasi wisata.
Menurut Ni Luh Puspa, pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu memperkuat ekosistem pariwisata nasional agar lebih adaptif terhadap perubahan tren wisata global. Dengan demikian sektor pariwisata Indonesia dapat semakin berkualitas dan profesional dalam hal tata kelola serta pelayanan.
Ia juga menekankan bahwa keramahtamahan masyarakat Indonesia tetap menjadi kekuatan utama dalam menarik minat wisatawan mancanegara. "Tren bisa berubah tapi pelayanan dan keramahtamahan menjadi kunci bagi orang terus mengingat dan datang kembali,” ujarnya.
Menurutnya nilai keramahan yang dimiliki masyarakat Indonesia menjadi modal penting untuk menjaga loyalitas wisatawan.
Hal tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.