Proyeksi Ekspor-Impor RI Januari 2026 Menguat
- 28 Feb 2026 11:36 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Memasuki awal 2026, ketahanan sektor eksternal Indonesia diproyeksikan berada dalam kondisi yang lebih solid dibandingkan capaian akhir tahun sebelumnya. Aktivitas perdagangan internasional diperkirakan kembali menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data dari Bloomberg Technoz, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2026 diperkirakan mencapai 11,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi Desember 2025 yang hanya tumbuh 0,36 persen.
Sementara itu, impor pada Januari 2026 diproyeksikan melonjak hingga 20 persen (yoy). Proyeksi tersebut berbalik tajam dari Desember 2025 yang sempat terkontraksi 2,7 persen.
Jika perkiraan ini terealisasi, maka awal tahun akan ditandai dengan peningkatan signifikan aktivitas perdagangan. Kembalinya ekspor ke level pertumbuhan dua digit mengindikasikan bahwa permintaan eksternal mulai membaik atau setidaknya stabil.
Di sisi lain, lonjakan impor kerap menjadi indikator meningkatnya aktivitas produksi dalam negeri. Ketika industri mulai menaikkan kapasitas produksi, kebutuhan bahan baku dan barang modal biasanya ikut meningkat.
Faktor musiman juga dinilai turut berpengaruh. Memasuki Februari dan Maret 2026, momentum Ramadan dan Idul Fitri yang secara historis mendorong konsumsi rumah tangga serta distribusi barang, membuat pelaku usaha mulai mengisi kembali persediaan sejak Januari.
Kondisi tersebut mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek konsumsi domestik jangka pendek. Peningkatan impor yang lebih tinggi dibanding ekspor dapat diartikan sebagai sinyal ekspansi aktivitas ekonomi dalam negeri.
Namun dari sisi neraca perdagangan, kombinasi pertumbuhan ekspor 11,9 persen dan impor 20 persen berpotensi membuat surplus menyempit dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, terutama jika harga komoditas global tidak mengalami lonjakan signifikan.
Meski demikian, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 diperkirakan tetap solid di kisaran 2,8 miliar dolar AS. Proyeksi ini meningkat dibandingkan capaian sebelumnya sebesar 2,51 miliar dolar AS.
Hal tersebut menunjukkan nilai ekspor secara nominal masih cukup kuat dalam menjaga keseimbangan eksternal Indonesia dalam jangka pendek.
Ke depan, pasar akan mencermati dampak kerja sama dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat terhadap kinerja impor maupun ekspor. Pelaku pasar juga menilai apakah lonjakan impor mencerminkan ekspansi berkelanjutan atau hanya efek pemulihan sementara setelah kontraksi di akhir tahun lalu.