Literasi Agama dan Bahaya Radikalisme
- 13 Mar 2026 11:04 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Sigit Pramono, S.H, warga binaan Densus 88 AT Polri Satgaswil Papua, menjadi narasumber dalam dialog interaktif Pro 1 RRI Merauke. Dalam dialog tersebut, ia menceritakan bagaimana proses intelektual yang dijalaninya pernah membawanya pada pemikiran radikal. Jumat 13 Maret 2026.
Ia mengatakan bahwa latar belakang pendidikan agama membuatnya memiliki minat besar dalam mempelajari berbagai literatur keislaman. Namun, keinginan untuk mencari pemahaman yang lebih mendalam justru membawanya pada sumber-sumber pemikiran yang ekstrem.
Menurut Sigit, setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi agama, ia mulai merasa bosan dengan materi ceramah yang menurutnya tidak berkembang. Kondisi tersebut mendorongnya mencari referensi lain di luar yang biasa ia pelajari.
“Literasi saya sangat dalam dan rasa ingin tahu saya sangat kuat.Saya merasa apa yang disampaikan para pendakwah saat itu sudah saya ketahui,” ujar Sigit.
Ia kemudian meneliti berbagai kitab yang membahas ideologi dan pergerakan keagamaan dari kawasan Timur Tengah. Dari situlah ia mulai menemukan pemikiran yang kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap agama dan konflik dunia Islam.
Pada masa yang sama, konflik di Timur Tengah seperti perang di Suriah dan Irak turut memengaruhi persepsinya terhadap isu-isu keagamaan. Narasi yang berkembang di media dan literatur yang ia pelajari membuatnya semakin yakin dengan pandangan yang keliru tersebut.
Kini ia menilai bahwa pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya. Semunya itu bisa menjadi pembalajaran dan mengingatkan masyarakat tentang bahaya memahami agama secara sempit.