Konjen Tiongkok Ajak Hormati Sejarah dan Junjung Perdamaian

  • 23 Agt 2025 00:36 WIB
  •  Medan

KBRN, Medan: Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan menyelenggarakan diskusi panel untuk memperingati 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok melawan agresi Jepang sekaligus Perang Anti-Fasis Sedunia pada Jumat (22/8/2025) di kediaman Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan.

Dalam sambutannya, Pj. Konjen Tiongkok di Medan, Xu Chunjuan, menyampaikan bahwa peringatan ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneguhkan komitmen bersama untuk menghargai perdamaian. Ia menekankan bahwa penderitaan dan tragedi perang harus dijadikan pelajaran berharga bagi generasi sekarang untuk menghindari terulangnya konflik di masa depan.

“Hari ini kita berkumpul bersama untuk mengenang sejarah, menghormati para pahlawan, menjunjung perdamaian dan membangun masa depan,” ujar Xu saat membuka acara.

Xu menjelaskan bahwa rakyat Tiongkok telah memberikan pengorbanan besar dalam Perang Dunia Kedua, dengan jutaan jiwa yang gugur demi membendung ekspansi militer Jepang. Namun, di balik kesulitan tersebut, lahir semangat kebersamaan bangsa-bangsa cinta damai di dunia yang kemudian berhasil menumbangkan fasisme.

Ia juga menyinggung kedekatan historis Tiongkok dan Indonesia yang sama-sama merasakan penderitaan akibat penjajahan Jepang. Menurutnya, kedua bangsa memiliki pengalaman bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan, sehingga wajar bila hubungan bilateral kini semakin erat. Momentum 75 tahun hubungan diplomatik Tiongkok-Indonesia dan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung disebutnya sebagai pengingat pentingnya memperkuat kerja sama dalam membangun perdamaian dunia.

“Baik Tiongkok maupun Indonesia, sebagai negara berkembang utama, ekonomi pasar berkembang, dan kekuatan utama di Global South, memiliki pengaruh yang signifikan dalam urusan internasional dan regional dan merupakan kekuatan penting dalam menjaga hasil kemenangan Perang Anti-Fasis Sedunia dan dengan tegas mempertahankan tujuan dan prinsip Piagam PBB,” katanya.

Pidato Xu turut menyoroti tantangan global masa kini, termasuk konflik di Eropa dan Timur Tengah, serta kecenderungan munculnya kembali hegemonisme. Ia menegaskan bahwa dunia membutuhkan kerja sama yang saling menguntungkan, bukan hukum rimba.

“Hanya dengan menjaga hasil kemenangan Perang Dunia Kedua dan memperkuat tatanan internasional berbasis Piagam PBB, kita dapat mewujudkan pembangunan yang damai dan stabil,” katanya.

Xu menutup sambutannya dengan harapan agar Tiongkok dan Indonesia bersama-sama berkontribusi dalam memperdalam kemitraan strategis komprehensif, menjaga stabilitas kawasan, serta membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.

Rekomendasi Berita