Pasukan Terracotta, Keajaiban Arkeologi Terbesar di Tiongkok
- 09 Agt 2025 18:50 WIB
- Medan
KBRN, Xi’an: Penemuan Pasukan Terracotta (Terracotta Warriors) di Museum Situs Makam Kaisar Qin Shi Huang, Kota Xi;an Provinsi Shaanxi, menjadi salah satu penemuan arkeologi terbesar abad ke-20 sekaligus Warisan Budaya Dunia UNESCO sejak 1987. Lebih dari 8.000 patung prajurit dan kuda seukuran manusia asli ditemukan di kompleks ini, menggambarkan kekuatan militer kekaisaran pertama Tiongkok dan menjadi bukti kemajuan teknologi serta seni 2.000 tahun lalu.
Kaisar Qin Shi Huang (259–210 SM), pendiri Kekaisaran Qin, memulai pembangunan makam segera setelah naik takhta. Proyek raksasa ini berlangsung selama 39 tahun dan melibatkan sekitar 720 ribu pekerja di area seluas 56 kilometer persegi. Kompleks makamnya mencakup ratusan lubang pemakaman, fondasi bangunan, serta ribuan artefak, mulai dari patung prajurit, kereta perunggu, patung akrobat, hingga burung air perunggu.
Penemuan Pasukan Terracotta berawal pada 1974 ketika petani setempat menggali sumur dan menemukan pecahan tembikar, termasuk kepala patung. Temuan itu mendorong tim arkeolog melakukan penggalian skala besar yang membuka lembaran baru sejarah Tiongkok kuno.
“Semua patung ini dibuat seukuran manusia asli, dengan ciri wajah, gaya rambut, dan perlengkapan yang berbeda sesuai pangkat,” ujar pemandu wisata Chang Hong Mei kepada RRI.

Deretan patung prajurit dan kuda Terracotta di Pit No. 1 Museum Situs Makam Kaisar Qin Shi Huang, Xi’an, tersusun dalam formasi tempur (Foto: RRI/ Mario Pascal)
Museum Situs Makam Kaisar Qin Shi Huang kini terbagi dalam beberapa area utama. Pit No. 1 merupakan lubang terbesar dan paling terkenal, berisi ribuan patung prajurit dalam formasi tempur lengkap. Barisan depan disusun untuk menyerang, sisi kiri dan kanan menjaga pertahanan samping, sementara bagian belakang menjadi barisan cadangan.
“Semua menghadap ke timur, arah wilayah yang ditaklukkan Qin Shi Huang,” kata Mei.
Pit No. 2 menampilkan formasi infanteri, kavaleri, kusir kereta, dan pemanah, termasuk Kneeling Archer, satu-satunya patung yang ditemukan utuh dan dijuluki “harta museum”.

Pit No. 3 berisi patung prajurit tanpa kepala yang diyakini sebagai markas komando pasukan Dinasti Qin.(Foto: RRI/Mario Pascal)
Sementara itu, Pit No. 3 berisi 72 patung yang diyakini sebagai markas komando pasukan. Pit No. 3 sendiri merupakan struktur bawah tanah yang sangat terencana, dibangun dari tanah padat (rammed earth) dan kayu. Lubang berbentuk huruf “U” ini pertama kali digali, kemudian dindingnya diperkuat dengan tanah padat membentuk platform dua tingkat selebar 1–2 meter dan tinggi 3–3,5 meter. Dasarnya dilapisi tanah padat setebal 0,7 meter, di atasnya diletakkan batu bata biru.
Pilar-pilar berdiri di antara balok tanah dan balok atap untuk menopang kerangka kayu, sedangkan papan dan anyaman alang-alang dipasang di atasnya sebelum ditutup kembali dengan lapisan tanah. Pintu masuknya disegel dengan tiang kayu vertikal, menutup rapat kamp bawah tanah tersebut.
Pit ini ditemukan pada Mei 1976, berjarak 25 meter di utara bagian barat Pit No. 1. Penggalian awal dilakukan Maret–Desember 1977, lalu ditutup kembali, dan penggalian resmi dimulai pada Desember 1988 setelah bangunan pelindung selesai.
Selain tiga pit utama, kompleks ini juga mencakup K9901 Terracotta Acrobats Pit yang berisi patung akrobat dengan pose dinamis, K0006 Civil Figurines Pit berisi figur sipil tanpa baju zirah, serta Bronze Waterfowl Pit yang menampilkan patung bangau perunggu. Dua kereta perunggu yang dipamerkan di Qinling Bronze Chariot and Horse Museum bahkan dijuluki “Crown of Bronze” karena kerumitan dan ukurannya yang menakjubkan.
Menurut Mei, salah satu penemuan paling mengejutkan adalah warna asli patung yang masih terlihat saat pertama kali diangkat.
“Warnanya cerah, merah, biru, hijau, dan ungu. Ungu ini istimewa karena hasil reaksi kimia yang hanya ditemukan di Tiongkok 2.000 tahun lalu. Teknologi ini benar-benar revolusioner pada masanya,” ujarnya.
Setiap patung dibuat dengan teknik cermat. Bagian bawah padat untuk stabilitas, bagian atas berongga untuk keseimbangan, tinggi rata-rata 174–188 cm, berat sekitar 300 kg, dan berdiri di alas setinggi 12 cm. Dahulu, semua patung memegang senjata asli, meski banyak yang hilang akibat penjarahan.
Bagi masyarakat Qin, prajurit terracotta berfungsi sebagai pengganti praktik pengorbanan manusia yang pernah dilakukan untuk mengiringi penguasa ke alam baka. “Dulu, para raja dan bangsawan dikuburkan bersama pelayan mereka. Patung ini adalah pengganti yang lebih berperikemanusiaan,” kata Mei.
Kini, kompleks Museum Situs Makam Kaisar Qin Shi Huang menjadi destinasi wisata budaya kelas dunia, berstatus Objek Wisata Nasional Kelas 5A dan Situs Bersejarah Nasional yang Dilindungi. Keheningan ribuan prajurit bisu di bawah tanah itu terus memancarkan kisah tentang kekuasaan, keabadian, dan kejayaan peradaban Tiongkok kuno.