Masyarakat Menghadapi Krisis Etika di Media Sosial
- 12 Feb 2026 17:26 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang pencarian informasi, pembentukan identitas, dan ekspresi diri. Namun, kebebasan tersebut tidak selalu diiringi dengan tanggung jawab, sehingga muncul berbagai persoalan seperti penyebaran informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, perundungan, hingga eksploitasi anak. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap menurunnya kesadaran etika dalam ruang digital, hal ini dikupas tuntas diacara dialog Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94.3 MHz. Kamis ( 12/2/2026 ) pagi, menghadirkan narasumber : Corry Novrica AP Sinaga, S.Sos., M.A. (Pengamat Media Sosial) dan Oktariani, S.Psi., M.Psi. (Akademisi dan Pemerhati Anak Usia Dini) membahas topik : Ketika Media Sosial Kehilangan Etika.
Corry menyatakan bahwa salah satu indikator menurunnya etika di media sosial adalah maraknya konten emosional yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian dan meningkatkan interaksi. Algoritma platform digital cenderung mendorong konten yang memicu emosi seperti kemarahan dan kontroversi karena konten tersebut menghasilkan lebih banyak keterlibatan dan keuntungan ekonomi.
“ Sebagian pengguna memanfaatkan konflik, isu pribadi, bahkan tragedi untuk kepentingan monetisasi. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi persoalan global. Namun, di Indonesia, respons warganet cenderung lebih dramatis dan reaktif, “ Ujar Corry.
Lebih lanjut Corry menjelaskan bahwa rendahnya literasi digital menyebabkan banyak pengguna mudah memberikan komentar tanpa mempertimbangkan dampaknya. Beberapa akun anonim memanfaatkan ruang digital untuk menyerang pihak lain tanpa tanggung jawab.
Terkait regulasi, Corry menilai bahwa aturan yang mengatur media sosial belum sekuat regulasi penyiaran konvensional seperti televisi dan radio. Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat regulasi serta meningkatkan pengawasan terhadap konten yang merugikan masyarakat.
Sedangkan Oktariani yang juga juga menjadi narasumber dialog Aspirasi Sumut menjelaskan bahwa anak usia dini belum mampu menyaring informasi yang diterima dari media digital. Anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengar, sehingga paparan konten negatif dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan karakter mereka.
Ia menegaskan bahwa media sosial belum memiliki manfaat signifikan bagi anak usia dini. Anak lebih membutuhkan aktivitas bermain langsung untuk mendukung tumbuh kembang kognitif, sosial, dan emosional.
“ Penggunaan gawai berlebihan dapat menyebabkan, gangguan fokus dan konsentrasi, perilaku hiperaktif, peningkatan tantrum, gangguan perkembangan kognitif dan sosial, merujuk pada anjuran WHO yang menyarankan agar anak usia 0–2 tahun tidak terpapar layar sama sekali (no screen time). Peran orang tua sangat penting dalam, membatasi penggunaan gawai, memberikan alternatif aktivitas yang lebih bermakna, tidak menggunakan gawai secara berlebihan di depan anak, meningkatkan literasi digital keluarga, “ ungkap Oktariani.
Oktariani juga mengingatkan bahwa media sosial dapat membentuk ekspektasi tidak realistis pada anak dan remaja, sehingga berpotensi menimbulkan stres dan perasaan tidak percaya diri.
Sebagai penutup dialog narasumber menegaskan bahwa media sosial memerlukan tanggung jawab kolektif dari pengguna, keluarga, dan pemerintah. Masyarakat perlu meningkatkan literasi digital serta menjaga etika dalam berinteraksi agar ruang digital tetap sehat, aman, dan produktif, terutama bagi generasi muda, mengajak masyarakat untuk, memverifikasi informasi sebelum membagikan, menghindari komentar yang bersifat menyerang atau menghina, dan menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. ( Red : Asyifah ).