Gubernur Sidak Pasar Brang Biji, Harga Cabai Rawit Tembus Rp120 Ribu
- 12 Mar 2026 14:48 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa - Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, Kamis, 12 Maret 2026. Kunjungan itu dilakukan untuk memantau langsung harga bahan pokok di tengah meningkatnya permintaan menjelang Idulfitri.
Sidak tersebut merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadan Gubernur NTB di Kabupaten Sumbawa. Di pasar, Iqbal berdialog dengan pedagang sekaligus mengecek harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Hasil pemantauan menunjukkan harga cabai rawit masih berada pada kisaran Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Iqbal menilai harga itu masih relatif tinggi.
“Dari hasil pengecekan langsung di pasar, harga cabai rawit memang masih cukup tinggi. Ini juga dipengaruhi karena pasar ini bukan pasar induk sehingga distribusi pasokan tidak sebesar di pasar utama,” kata Iqbal.
Menurutnya, lonjakan harga cabai rawit dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Permintaan masyarakat meningkat menjelang hari raya, sementara pasokan masih terbatas.
Pemerintah Provinsi NTB sebelumnya telah menambah pasokan dengan mendatangkan lebih dari satu ton cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Namun langkah itu dinilai belum cukup menekan harga di tingkat pasar.
Pemprov NTB kini menjajaki opsi tambahan pasokan dari daerah lain. Koordinasi dilakukan dengan Badan Pangan Nasional untuk memetakan wilayah yang memiliki surplus produksi cabai.
“Kami terus berkomunikasi dengan Badan Pangan Nasional untuk melihat daerah mana yang memiliki harga cabai lebih rendah dan memungkinkan dilakukan distribusi ke NTB sebagai bentuk intervensi pasar,” ujar Iqbal.
Selain cabai, gubernur juga memantau harga minyak goreng dan beras. Untuk dua komoditas itu, pemerintah membuka peluang intervensi melalui koordinasi dengan Perum Bulog guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok.
Dalam sidak tersebut, Iqbal juga menemukan harga minyak goreng bersubsidi “Minyak Kita” di Sumbawa masih relatif tinggi. Kondisi itu diduga terjadi karena sebagian pedagang belum terhubung dengan jalur distribusi resmi sebagai distributor.
Iqbal memastikan pemantauan pasar akan terus dilakukan selama Ramadan. Tujuannya untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mengendalikan harga bahan pokok di daerah.
“Pemerintah harus hadir memastikan harga tetap terkendali dan kebutuhan masyarakat terpenuhi, apalagi menjelang hari raya ketika permintaan biasanya meningkat,” kata dia.