Deforestasi: Ancaman Senyap yang Terus Menggerus Hutan Dunia

  • 11 Des 2025 14:12 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Dalam beberapa waktu terakhir, banjir besar, longsor, hingga krisis air bersih semakin sering terjadi di berbagai daerah. Banyak ahli lingkungan menilai bahwa kerusakan hutan dan aktivitas tambang yang tidak terkendali menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya bencana tersebut. Ketika hutan ditebang dan tanah digali tanpa pengelolaan yang baik, tidak ada lagi kawasan yang mampu menahan air, menyerap limpasan hujan, atau menjaga kestabilan tanah. Di sinilah isu deforestasi menjadi sangat relevan dan mendesak untuk diperhatikan.

Deforestasi sendiri bukan hanya soal hilangnya pepohonan, tetapi hilangnya fungsi penting hutan bagi iklim, air, tanah, hingga kehidupan manusia. Menurut data United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), deforestasi meningkatkan risiko bencana alam seperti banjir bandang, longsor, dan kekeringan karena hilangnya area penyangga ekosistem. Ini menunjukkan bahwa hutan sejatinya memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Berdasarkan laporan Global Forest Resources Assessment 2025 yang dilansir oleh Mongabay Indonesia, hutan dunia kehilangan sekitar 10,9 juta hektar setiap tahun, terutama di kawasan tropis. Meski beberapa negara mulai melakukan pemulihan hutan, laju kerusakan masih lebih cepat daripada proses pemulihannya. Angka ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan global masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) juga menegaskan bahwa deforestasi di Indonesia banyak dipicu oleh ekspansi tambang, perkebunan skala besar, dan proyek industri kayu yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, sehingga tekanan terhadap hutan terus meningkat.

Dampak hilangnya hutan sangat luas. Dalam website The Pachamama Alliance dijelaskan bahwa deforestasi mempercepat pemanasan global karena berkurangnya kemampuan pohon dalam menyerap karbon. Tanpa tutupan pohon, tanah lebih mudah mengalami erosi, kualitas air menurun, dan siklus hydrologi terganggu. Kehilangan hutan berarti kehilangan habitat jutaan spesies flora dan fauna, yang membuat tingkat kepunahan semakin meningkat. Dampak ini bukan hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga stabilitas ekosistem dunia.

Kerusakan hutan juga berdampak langsung pada komunitas manusia, terutama masyarakat adat dan warga pedesaan yang menggantungkan hidup pada hutan. Masih menurut The Pachamama Alliance, hilangnya hutan menyebabkan berkurangnya sumber pangan, obat alami, hingga akses air bersih. Banyak masyarakat kehilangan ruang hidup akibat pembukaan lahan besar-besaran, sehingga memicu konflik agraria dan kerentanan ekonomi. Ketika sumber daya alam habis, maka kerentanan sosial dan ekonomi meningkat.

Berbagai organisasi lingkungan dan pemerintah kini menekankan pentingnya tata kelola hutan yang lebih berkelanjutan. Mulai dari upaya reboisasi, perlindungan kawasan hutan, pembatasan pembukaan lahan tambang, hingga penggunaan produk ramah lingkungan. UNDRR menegaskan bahwa penguatan kebijakan tata guna lahan adalah langkah penting untuk menekan risiko bencana. Pada akhirnya, menjaga hutan berarti menjaga masa depan ekosistem dan generasi berikutnya, sebuah komitmen bersama demi keberlanjutan lingkungan. (RRI/Aldi W.)

Rekomendasi Berita